Puluhan psikolog dari berbagai institusi turun tangan memberikan pendampingan trauma healing kepada siswa SMAN 72 Jakarta setelah insiden ledakan yang mengguncang sekolah pada 7 November 2025. Program pendampingan psikologis darurat ini menjadi respons cepat pemerintah untuk mengatasi dampak trauma yang dialami 96 korban, mayoritas siswa.
Insiden yang terjadi di masjid SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara ini menyoroti pentingnya layanan kesehatan mental di lingkungan pendidikan. Data terbaru dari Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 menunjukkan bahwa 34,9% atau setara 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Kasus SMAN 72 membuktikan bahwa sistem pendampingan psikologis yang responsif sangat krusial dalam menghadapi situasi krisis.
Daftar Isi:
- Kronologi Ledakan dan Respons Cepat Tim Psikolog
- Multi-Institusi: Sinergi Pendampingan Psikologis
- Program Trauma Healing dan Pembelajaran Jarak Jauh
- Data Kesehatan Mental Remaja Indonesia 2025
- Metode Psychological First Aid (PFA) yang Diterapkan
- Dukungan Berkelanjutan untuk Pemulihan Jangka Panjang
- Rekomendasi Sistem Kesehatan Mental Sekolah
Kronologi Ledakan dan Respons Cepat Tim Psikolog

Ledakan di SMAN 72 Jakarta terjadi pada Jumat, 7 November 2025, saat siswa dan guru menjalankan salat Jumat. Terjadi dua kali ledakan—pertama di musala lantai ketiga, kemudian menyusul ledakan kedua dari area belakang kantin beberapa menit kemudian. Insiden ini mengakibatkan 96 orang luka-luka, dengan 29 orang masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit, sementara 67 lainnya telah diperbolehkan pulang.
Respons tim psikolog dimulai sejak malam kejadian. Polda Metro Jaya melalui Biro Psikologi SSDM Polri dan Bagian Psikologi Biro SDM Polda Metro Jaya melanjutkan pendampingan psikososial serta bantuan awal psikologis (Psychological First Aid/PFA) bagi para korban, keluarga, dan tenaga pendidik pascaledakan. Kegiatan ini melibatkan puluhan psikolog Polri dari Mabes dan Polda Metro Jaya yang berkompeten dalam penanganan krisis psikologis dan pemulihan trauma.
Kepala Sekolah SMAN 72 Jakarta, Tetty Helena Tampubolon, menjelaskan bahwa pembelajaran jarak jauh (PJJ) dengan fokus trauma healing dimulai sejak Senin, 10 November 2025. Tujuannya adalah memastikan seluruh siswa siap secara mental untuk kembali belajar secara langsung.
Multi-Institusi: Sinergi Pendampingan Psikologis

Pendampingan psikologis di SMAN 72 Jakarta melibatkan kolaborasi lintas institusi yang menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani krisis kesehatan mental. Psikolog berasal dari sejumlah institusi baik dari kepolisian, Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan dan lainnya.
Institusi yang Terlibat:
Kegiatan pendampingan dipimpin oleh BJP Yohanes Ragil H.S., S.I.K., M.Hum., dari Biro Psikologi SSDM Polri. Kegiatan pada Sabtu (8/11) difokuskan di tiga titik utama, yakni RS Islam Jakarta Cempaka Putih, RS YARSI Cempaka Putih, dan SMAN 72 Jakarta Utara.
Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) DKI Jakarta akan mendampingi proses pemulihan psikologis para korban, termasuk selama masa pembelajaran jarak jauh (PJJ) berlangsung.
Pemprov DKI Jakarta menghadirkan mobil SAPA (Sahabat Perempuan dan Anak) di lingkungan sekolah untuk memberikan layanan konseling gratis. Layanan ini dihadirkan untuk membantu siswa, guru, serta keluarga terdampak agar bisa pulih secara menyeluruh, baik fisik maupun mental.
Tim tenaga psikologi Korps Relawan Bencana (KRESNA) dari Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI) memberikan dukungan PFA, bagi para murid, guru, dan tenaga kependidikan SMAN 72 Jakarta yang terdampak kejadian.
Polri akan berkoordinasi dengan Mabes Polri dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) untuk memastikan ketersediaan tenaga psikolog selama masa pemulihan.
Program Trauma Healing dan Pembelajaran Jarak Jauh

Pembelajaran difokuskan pada proses pemulihan dan persiapan mental siswa sebelum kembali ke sekolah. Pembelajaran di kelas nantinya akan diisi wali kelas dan psikolog dengan pembelajaran yang dikemas dengan memberikan ruang interaksi lebih dekat, seperti olahraga dan seni, agar siswa-siswi SMAN 72 pulih dan kembali merasa aman.
Metode Pembelajaran Selama Masa Pemulihan:
Kegiatan belajar mengajar di sekolah dilakukan secara daring dengan pelaksanaan dukungan psikososial awal berbasis Psychological First Aid (PFA) untuk siswa, guru, dan wali murid. Rekomendasi Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI) adalah guru dibekali keterampilan pendampingan psikososial kepada siswa karena bersifat jangka panjang.
Kegiatan PFA bagi murid serta guru dan tenaga kependidikan (GTK) SMAN 72 Jakarta dibagi ke dalam kelompok sesuai kelasnya masing-masing dengan didampingi oleh fasilitator dan observer untuk kemudian melakukan berbagai aktivitas tahapan pemulihan pasca trauma. Seperti Orientasi dan Klarifikasi Fakta, Normalisasi dan Psychoeducation, serta Dukungan dan Refleksi (Coping Sharing).
Pada tahap awal pendampingan psikologis, KPAI akan melakukan asesmen kondisi seluruh siswa, guru, hingga wali murid yang membutuhkan. Psikolog yang terlibat akan didatangkan langsung ke rumah sakit tempat para korban dirawat sampai ke rumah para korban.
Data Kesehatan Mental Remaja Indonesia 2025

Insiden SMAN 72 Jakarta menyoroti krisis kesehatan mental remaja yang lebih luas di Indonesia. Data terbaru menunjukkan situasi yang mengkhawatirkan:
Statistik Nasional Kesehatan Mental Remaja:
Hasil survei Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menyebutkan bahwa satu dari tiga remaja (34,9%) atau setara dengan 15,5 juta remaja Indonesia memiliki setidaknya satu masalah kesehatan mental. Masalah kesehatan mental ini merujuk pada depresi, kecemasan, stress pasca trauma, masalah perilaku, dan masalah terkait pemusatan perhatian dan/atau hiperaktivitas.
Kecemasan menjadi masalah kesehatan mental yang paling tinggi dialami remaja Indonesia, lebih tinggi pada perempuan (28,2%) dibandingkan pada remaja laki-laki (25,4%). Kemudian prevalensi hiperaktivitas atau masalah terkait pemusatan perhatian dialami lebih tinggi pada remaja laki-laki sebesar 12,3% dibanding remaja perempuan sebesar 8,8%.
Gangguan mental yang paling banyak diderita remaja Indonesia adalah gangguan kecemasan (gabungan antara fobia sosial dan gangguan kecemasan umum) sebesar 3,7%.
Berdasarkan data dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), jumlah kasus bunuh diri di Indonesia sepanjang 2012–2023 mencapai 2.112 kasus, dan 985 kasus di antaranya terjadi pada remaja atau sekitar 46,63%.
Pernyataan Pemerintah:
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa pemerintah memperkirakan sekitar 30 persen dari 280 juta jiwa masyarakat Indonesia mengalami penyakit mental. Program skrining gratis untuk kesehatan mental akan dilaksanakan bagi anak sekolah, dewasa, dan lansia.
Hanya 2,6% remaja dengan masalah kesehatan mental yang mengakses layanan dalam 12 bulan terakhir. Angka ini menunjukkan kesenjangan besar antara kebutuhan dan akses layanan kesehatan mental.
Metode Psychological First Aid (PFA) yang Diterapkan

Tim melakukan pendampingan dengan metode Psychological First Aid, yaitu bantuan awal psikologis yang berfokus pada pemulihan emosi, penguatan rasa aman, serta pengelolaan stres.
Tahapan PFA di SMAN 72 Jakarta:
- Orientasi dan Klarifikasi Fakta – Membantu siswa memahami apa yang terjadi dengan informasi yang akurat untuk mengurangi rumor dan kecemasan berlebihan.
- Normalisasi dan Psychoeducation – Menjelaskan bahwa reaksi emosional seperti takut, sedih, atau marah adalah respons normal terhadap kejadian traumatis.
- Dukungan dan Refleksi (Coping Sharing) – Memberikan ruang bagi siswa untuk berbagi perasaan dan strategi mengatasi trauma dalam kelompok yang aman.
Kepala Bagian Psikologi Biro SDM Polda Metro Jaya, AKBP Ida Bagus Gede Adi Putra Yadnya, menjelaskan pendampingan ini merupakan bagian dari program trauma healing yang dilakukan langsung di sekolah dan di kediaman keluarga korban. “Pendampingan ini dilakukan agar keluarga korban dan para guru bisa mengelola stres serta rasa takut setelah kejadian”.
Dukungan Berkelanjutan untuk Pemulihan Jangka Panjang

Beberapa keluarga korban menyampaikan bahwa anak-anak mereka masih memerlukan pendampingan psikologis lanjutan pascapemulihan medis. Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan trauma bukanlah proses instant, melainkan memerlukan dukungan berkelanjutan.
Program Lanjutan:
Setelah tiga sampai empat hari, pelaksanaan pembelajaran seperti itu akan dievaluasi. Hasil asesmen akan dilihat untuk menentukan kesiapan siswa, guru, dan lingkungan sekolah usai peristiwa ledakan di SMAN 72 Jakarta.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, mengimbau kepada para orang tua dan guru lebih memperhatikan kondisi emosional serta lingkungan sosial anak-anak di sekolah maupun di rumah. “Kami mengimbau kepada para guru dan orang tua untuk lebih aware terhadap kondisi putra-putri kita, tidak hanya secara formal tetapi juga nonformal di luar kelas”.
Masjid yang menjadi tempat kejadian sudah direnovasi kembali dengan mengecat ulang dinding dan mengganti karpet masjid baru untuk menghilangkan pengingat visual kejadian traumatis.
Rekomendasi Sistem Kesehatan Mental Sekolah

Kasus SMAN 72 Jakarta mendorong evaluasi sistem kesehatan mental di seluruh sekolah Indonesia. Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) meminta Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melibatkan psikolog di setiap sekolah di Indonesia. Langkah ini dinilai penting untuk mencegah perundungan (bullying) di lingkungan pendidikan yang berpotensi memicu tindakan nekat dari siswa.
Rekomendasi Berbasis Bukti:
Gubernur Lemhannas RI TB Ace Hasan Syadzily meminta Kemendikdasmen melakukan evaluasi menyeluruh terhadap peran guru bimbingan dan konseling (BK) di sekolah. “Sekolah perlu memperkuat peran guru BK dan melibatkan psikolog profesional agar anak-anak tidak merasa tertekan, terisolasi, atau menjadi korban perundungan”.
Menurut WHO, 1 dari 7 anak berusia 10–19 tahun mengalami masalah kesehatan mental, dengan depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku sebagai penyebab utama. Sayangnya, stigma masih menghambat banyak remaja untuk mencari bantuan.
Faktor Risiko yang Perlu Diantisipasi:
Tekanan emosional akibat perubahan fisik, sosial, perundungan (bullying), kekerasan seksual, serta pengaruh media sosial dapat mendorong remaja melakukan tindakan menyakiti diri sendiri (self-harm) atau bahkan bunuh diri. Bunuh diri menjadi penyebab kematian ketiga tertinggi pada kelompok usia 15–29 tahun.
Baca Juga 10 Tokoh Bangsa Diganjar Gelar Pahlawan Nasional Hari Ini
Urgensi Sistem Kesehatan Mental Sekolah
Respons cepat dan terkoordinasi dalam pendampingan psikologis di SMAN 72 Jakarta menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk menangani krisis kesehatan mental darurat. Namun, data nasional menunjukkan bahwa sistem preventif masih sangat lemah—hanya 2,6% remaja dengan masalah kesehatan mental yang mengakses layanan profesional.
Kasus ini menjadi momentum untuk transformasi sistem kesehatan mental di sekolah, dari reaktif menjadi proaktif. Integrasi psikolog profesional, penguatan peran guru BK, dan kolaborasi multi-institusi harus menjadi standar di seluruh sekolah Indonesia, bukan hanya respons darurat.
Professor Siswanto Agus Wilopo, peneliti utama I-NAMHS, menekankan: “I-NAMHS dapat membantu Pemerintah dan pihak lain yang terkait dengan kesehatan mental remaja dalam merancang program dan advokasi yang lebih baik bagi generasi muda kita”.
Pertanyaan untuk refleksi: Apakah sekolah Anda memiliki sistem pendampingan kesehatan mental yang memadai? Bagaimana pengalaman Anda atau orang terdekat dalam mengakses layanan psikologis di lingkungan pendidikan?