Hari Pahlawan 10 November 2025 jadi momen spesial banget buat Indonesia. Presiden Prabowo Subianto resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh bangsa di Istana Negara, Jakarta. Yang bikin istimewa, tahun ini ada nama-nama besar seperti Presiden ke-2 RI Soeharto, Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dan aktivis buruh Marsinah yang akhirnya dapat pengakuan tertinggi ini.
Berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 116/TK Tahun 2025, 10 tokoh bangsa diganjar gelar Pahlawan Nasional setelah melewati proses seleksi panjang dari 49 nama yang diusulkan. Proses ini melibatkan tahapan berjenjang mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, Kementerian Sosial, hingga Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK) sebelum akhirnya diputuskan Presiden.
Menariknya, dari 10 nama yang diumumkan, ada campuran profesi yang beragam: mulai dari mantan presiden, jenderal militer, ulama berpengaruh, pionir pendidikan perempuan, hingga aktivis buruh. Ini membuktikan bahwa gelar Pahlawan Nasional nggak cuma untuk tokoh politik atau militer aja, tapi juga untuk mereka yang berjuang di bidang pendidikan, agama, dan hak asasi manusia.
Daftar Isi:
- Siapa Saja 10 Pahlawan Nasional 2025?
- Soeharto & Gus Dur: Dua Presiden, Dua Era Berbeda
- Marsinah: Aktivis Buruh yang Jadi Simbol Perjuangan HAM
- Jenderal Sarwo Edhie Wibowo: Perwira Berintegritas di Balik Sejarah
- Ulama Berpengaruh: Syaikhona Kholil & Rahmah El Yunusiyyah
- Tokoh Daerah yang Berjasa Besar untuk Indonesia
- Proses Penetapan: Dari 49 Usulan Jadi 10 Nama
- Mengapa Tahun Ini Berbeda dari Sebelumnya?
Siapa Saja 10 Pahlawan Nasional 2025?
Presiden Prabowo Subianto mengumumkan bahwa 10 tokoh bangsa diganjar gelar Pahlawan Nasional dalam upacara khusus yang dihadiri Wakil Presiden Gibran Rakabuming, Ketua MPR Ahmad Muzani, dan jajaran menteri Kabinet Merah Putih. Penganugerahan ini jadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Pahlawan 2025.
Berikut daftar lengkap 10 Pahlawan Nasional 2025 yang dianugerahkan hari ini:
- K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) – Tokoh Jawa Timur, Bidang Perjuangan Politik dan Pendidikan Islam
- Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto – Tokoh Jawa Tengah, Bidang Perjuangan Politik dan Kemiliteran
- Marsinah – Tokoh Jawa Timur, Bidang Perjuangan Hak Asasi Manusia dan Buruh
- Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja – Tokoh Jawa Barat, Bidang Perjuangan Hukum dan Politik
- Hajjah Rahmah El Yunusiyyah – Tokoh Sumatera Barat, Bidang Perjuangan Pendidikan Islam
- Jenderal TNI (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo – Tokoh Jawa Tengah, Bidang Perjuangan Bersenjata
- Sultan Muhammad Salahuddin – Tokoh NTB, Bidang Perjuangan Pendidikan dan Diplomasi
- Syaikhona Muhammad Kholil – Tokoh Jawa Timur, Bidang Perjuangan Pendidikan Islam
- Tuan Rondahaim Saragih – Tokoh Sumatera Utara, Bidang Perjuangan Bersenjata
- Zainal Abidin Syah – Tokoh Maluku Utara, Bidang Perjuangan Politik dan Diplomasi
Para ahli waris hadir langsung untuk menerima gelar kehormatan ini di tengah prosesi mengheningkan cipta yang dipimpin Presiden Prabowo. Momen haru terlihat jelas, terutama saat keluarga Marsinah menerima penganugerahan untuk mendiang aktivis buruh tersebut.
Lebih lanjut tentang sejarah penetapan Pahlawan Nasional di Indonesia yang dimulai sejak era Presiden Soekarno.
Soeharto & Gus Dur: Dua Presiden, Dua Era Berbeda

Tahun ini istimewa karena ada dua mantan presiden yang menerima gelar Pahlawan Nasional sekaligus. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa Soeharto memiliki jasa luar biasa selama 32 tahun kepemimpinannya dalam membangun infrastruktur, ekonomi, dan stabilitas nasional di era Orde Baru.
Sementara Gus Dur dikenal sebagai tokoh demokrasi yang membawa Indonesia ke era reformasi yang lebih inklusif. Mantan Ketua Tanfidziyah Nahdlatul Ulama (NU) ini juga pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan dikenal sebagai pembela pluralisme serta hak-hak minoritas. Gus Dur pernah menjabat sebagai Presiden ke-4 RI dari 1999-2001.
Kedua tokoh ini merepresentasikan dua periode penting dalam sejarah Indonesia modern: era stabilitas dan pembangunan di bawah Soeharto, serta era keterbukaan dan demokrasi yang diperjuangkan Gus Dur. Meski keduanya memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda, kontribusi mereka terhadap Indonesia tidak bisa dipungkiri.
Proses penetapan mereka sebagai Pahlawan Nasional telah melewati kajian mendalam dari Dewan GTK yang dipimpin Fadli Zon sebagai Menteri Kebudayaan. Keputusan ini juga mendapat masukan dari Ketua MPR dan Wakil Ketua DPR untuk memastikan objektivitas penilaian.
Marsinah: Aktivis Buruh yang Jadi Simbol Perjuangan HAM

Salah satu 10 tokoh bangsa diganjar gelar Pahlawan Nasional yang paling mengharukan adalah Marsinah. Aktivis buruh perempuan asal Sidoarjo, Jawa Timur ini gugur pada tahun 1993 saat memperjuangkan hak-hak pekerja di era Orde Baru.
Marsinah ditemukan tewas setelah memimpin aksi mogok menuntut upah yang lebih layak bagi buruh pabrik. Kematiannya menjadi simbol perjuangan hak asasi manusia dan gerakan buruh di Indonesia. Selama puluhan tahun, aktivis HAM terus memperjuangkan agar jasanya diakui negara.
Saat acara penganugerahan di Istana Negara, tangis haru keluarga Marsinah pecah ketika menerima gelar Pahlawan Nasional. Momen ini jadi bukti bahwa perjuangan untuk keadilan sosial akhirnya mendapat pengakuan resmi dari negara. Penetapan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional juga menandai komitmen pemerintah dalam mengakui perjuangan para pejuang HAM.
Pengakuan ini penting bagi generasi muda untuk memahami bahwa kepahlawanan bukan hanya soal angkat senjata, tapi juga tentang keberanian melawan ketidakadilan struktural demi kehidupan yang lebih baik untuk semua orang.
Jenderal Sarwo Edhie Wibowo: Perwira Berintegritas di Balik Sejarah

Jenderal TNI (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo adalah perwira tinggi yang berperan penting dalam penumpasan G30S/PKI tahun 1965. Sebagai komandan RPKAD (kini Kopassus), beliau dikenal sebagai tokoh militer berintegritas tinggi yang menjalankan tugas negara dengan profesional.
Sarwo Edhie juga dikenal publik sebagai ayah dari almarhum Kristiani Herrawati (Ani Yudhoyono), istri Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono. Dedikasi beliau dalam menjaga stabilitas negara di masa-masa kritis menjadi salah satu alasan kuat untuk mendapat gelar Pahlawan Nasional.
Selama karirnya di TNI, Sarwo Edhie tidak hanya fokus pada operasi militer, tapi juga pengembangan profesionalisme prajurit dan penguatan hubungan sipil-militer. Beliau pensiun dengan pangkat Jenderal TNI dan tetap menjadi rujukan bagi banyak perwira muda hingga akhir hayatnya.
Penetapan Sarwo Edhie sebagai Pahlawan Nasional adalah penghargaan atas jasa-jasanya dalam menjaga kedaulatan NKRI di masa yang penuh gejolak politik dan keamanan.
Ulama Berpengaruh: Syaikhona Kholil & Rahmah El Yunusiyyah

Dari 10 tokoh bangsa diganjar gelar Pahlawan Nasional, dua di antaranya adalah ulama yang sangat berpengaruh dalam perkembangan pendidikan Islam di Indonesia.
Syaikhona Muhammad Kholil adalah ulama besar dari Bangkalan, Madura yang mendirikan Pondok Pesantren Cukir pada akhir abad ke-19. Beliau dikenal sebagai guru dari banyak tokoh ulama Indonesia, termasuk K.H. Hasyim Asy’ari (pendiri NU), K.H.R. As’ad Syamsul Arifin, dan K.H. Abdul Wahab Chasbullah. Sistem pendidikan pesantren yang dikembangkan Syaikhona Kholil menjadi model bagi ribuan pesantren di Indonesia hingga sekarang.
Sementara Hajjah Rahmah El Yunusiyyah adalah pionir pendidikan Islam untuk perempuan di Indonesia. Beliau mendirikan Madrasah Diniyyah Puteri Padang Panjang, Sumatera Barat pada tahun 1923. Rahmah adalah ulama perempuan pertama yang mendapat gelar “Syaikhah” dari Universitas Al-Azhar Cairo, Mesir.
Sistem pendidikan yang dikembangkan Rahmah bahkan menginspirasi Al-Azhar untuk mendirikan Kulliyatul Banat (fakultas khusus perempuan). Alumni Diniyah Putri seperti Zakiah Daradjat menjadi tokoh pendidikan Islam Indonesia. Rahmah wafat pada malam takbiran Idul Adha 1969, dan rumahnya kini menjadi Museum Rahmah El Yunusiyyah.
Keduanya membuktikan bahwa pendidikan Islam adalah fondasi penting dalam pembentukan karakter bangsa Indonesia.
Tokoh Daerah yang Berjasa Besar untuk Indonesia
Selain tokoh nasional, ada beberapa pahlawan daerah yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional karena jasanya yang luar biasa:
Tuan Rondahaim Saragih adalah pejuang dari Kerajaan Raya, Simalungun, Sumatera Utara yang melawan kolonialisme Belanda dari 1880-1891. Ketika Belanda membuka perkebunan secara sepihak di wilayah Simalungun, Rondahaim memimpin perlawanan sengit yang memaksa Belanda mundur. Ketatnya pertahanan yang digalang membuktikan keberanian dan strategi militer yang brilian.
Sultan Muhammad Salahuddin dari NTB adalah tokoh yang berjasa dalam bidang pendidikan dan diplomasi. Beliau menjaga stabilitas wilayah sekaligus mengembangkan sistem pendidikan Islam di Lombok.
Zainal Abidin Syah adalah Sultan Tidore yang gigih mempertahankan kedaulatan kerajaan dan wilayah Maluku Utara dari ancaman kolonial. Diplomasi dan kegigihannya dalam mempertahankan tradisi serta wilayah adat menjadi warisan berharga bagi Maluku Utara modern.
Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja adalah mantan Menteri Luar Negeri RI dan Guru Besar Fakultas Hukum Unpad yang sangat berpengaruh dalam pengembangan hukum laut internasional dan diplomasi Indonesia. Konsep “wawasan nusantara” yang beliau kembangkan menjadi dasar hukum maritim Indonesia hingga kini.
Proses Penetapan: Dari 49 Usulan Jadi 10 Nama
Menteri Sosial Syaifullah Yusuf (Gus Ipul) menjelaskan bahwa proses penetapan 10 tokoh bangsa diganjar gelar Pahlawan Nasional ini telah melewati mekanisme sangat ketat dan berjenjang. Dari 49 nama yang diusulkan (40 usulan baru dan 9 carry over dari tahun sebelumnya), hanya 10 yang akhirnya lolos.
Prosesnya dimulai dari tingkat kabupaten/kota, kemudian naik ke provinsi, lalu masuk ke Kementerian Sosial untuk verifikasi administrasi dan kelayakan. Setelah itu, usulan diteruskan ke Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK) yang dipimpin Fadli Zon selaku Menteri Kebudayaan.
Dewan GTK melakukan kajian mendalam terhadap setiap tokoh: jasa-jasa mereka, dampak terhadap bangsa, dan relevansi dengan kriteria Pahlawan Nasional sesuai UU No. 20 Tahun 2009. Setelah melewati rapat finalisasi dengan Presiden Prabowo yang juga melibatkan masukan dari Ketua MPR dan Wakil Ketua DPR, keputusan final ditetapkan.
“Prosesnya sudah dilalui semua, mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, sampai ke Kemensos, lalu ke Dewan Gelar. Semua sudah sesuai aturan,” tegaskan Gus Ipul. Transparansi dan akuntabilitas proses ini penting untuk memastikan bahwa gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada tokoh yang benar-benar layak.
Mengapa Tahun Ini Berbeda dari Sebelumnya?
Penganugerahan 10 tokoh bangsa diganjar gelar Pahlawan Nasional tahun 2025 ini punya beberapa keunikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pertama, ini adalah kali pertama dua mantan presiden dianugerahi sekaligus dalam satu periode. Soeharto dan Gus Dur mewakili dua era berbeda dalam sejarah Indonesia modern.
Kedua, masuknya Marsinah sebagai aktivis buruh menandai perluasan definisi kepahlawanan. Sebelumnya, Pahlawan Nasional didominasi tokoh militer, politisi, atau ulama. Marsinah membuktikan bahwa perjuangan di level grassroots untuk keadilan sosial juga diakui negara.
Ketiga, representasi dari berbagai daerah sangat kuat tahun ini: Jawa Timur (3 tokoh), Jawa Tengah (2 tokoh), Sumatera Barat (1 tokoh), Sumatera Utara (1 tokoh), Jawa Barat (1 tokoh), NTB (1 tokoh), dan Maluku Utara (1 tokoh). Ini menunjukkan keberagaman geografis perjuangan kemerdekaan Indonesia.
Menurut Prasetyo Hadi, penetapan ini juga merupakan bentuk penghormatan terhadap para pemimpin terdahulu dan pembelajaran bagi generasi muda bahwa kepahlawanan punya banyak wajah: dari medan perang, ruang kelas, mimbar dakwah, hingga pabrik dan kantor.
Momentum Hari Pahlawan 10 November 2025 dengan 10 Pahlawan Nasional baru ini diharapkan bisa menginspirasi Gen Z Indonesia untuk berkontribusi nyata bagi bangsa sesuai passion dan keahlian masing-masing.
Baca Juga Update Banjir Garut 121 Rumah Rusak Evakuasi Dibuka
Penganugerahan gelar kepada 10 tokoh bangsa diganjar gelar Pahlawan Nasional hari ini bukan sekadar seremonial, tapi pengakuan resmi negara atas berbagai bentuk perjuangan: politik, militer, pendidikan, HAM, dan diplomasi. Dari Soeharto hingga Marsinah, dari Gus Dur hingga Syaikhona Kholil, semuanya punya cerita perjuangan yang berbeda tapi sama-sama berharga bagi Indonesia.
Pertanyaan buat kamu: Dari 10 Pahlawan Nasional yang dianugerahkan hari ini, siapa yang paling menginspirasi perjalanan hidupmu? Share pengalaman atau pandanganmu di kolom komentar!
Sumber Data: