Pakistan dan Afghanistan sepakat jeda perang menyambut Idul Fitri — sebuah penghentian sementara operasi militer yang berlaku mulai tengah malam 18/19 Maret hingga tengah malam 23/24 Maret 2026, atas mediasi Arab Saudi, Qatar, dan Turki.
Fakta Kunci Kesepakatan Jeda Perang Pakistan-Afghanistan 2026:
- Durasi jeda — 5 hari (18–23 Maret 2026), mencakup seluruh periode Idul Fitri
- Mediator — Arab Saudi, Qatar, dan Turki; Qatar yang mengumumkan dukungan resmi
- Kondisi Pakistan — operasi langsung dilanjutkan jika ada serangan lintas batas, serangan drone, atau insiden terorisme di dalam Pakistan
- Korban sebelum jeda — Afghanistan mengklaim 408 tewas + 265 luka dalam serangan terbaru (17 Maret 2026), Pakistan membantah angka tersebut
- Latar konflik — perang terbuka dimulai 27 Februari 2026 setelah gencatan senjata Oktober 2025 runtuh
Berdasarkan pernyataan resmi Menteri Informasi Pakistan Attaullah Tarar dan juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid.
Kabar mengejutkan datang dari perbatasan Asia Selatan. Dua negara yang sudah saling tembak selama hampir sebulan penuh — dengan sedikitnya 115.000 orang mengungsi menurut UNHCR — akhirnya setuju berhenti sejenak demi Idul Fitri. Apakah ini awal perdamaian, atau sekadar jeda sebelum eskalasi berikutnya? Jawabannya lebih rumit dari sekadar “ya” atau “tidak”. Untuk konteks kebijakan pertahanan kawasan yang berdampak ke Indonesia, baca juga tulisan kami tentang reformasi militer dan keamanan kawasan di RUU TNI.
Apa Isi Kesepakatan Jeda Perang Pakistan-Afghanistan Jelang Idul Fitri?

Jeda ini bukan gencatan senjata penuh. Pakistan menyebutnya pause — penghentian sementara Operasi Ghazab Lil-Haq (Amarah yang Benar) yang sudah berjalan sejak akhir Februari. Berlaku mulai tengah malam 18/19 Maret hingga tengah malam 23/24 Maret 2026. Afghanistan menyebutnya “penangguhan sementara Operasi Defensif Rad-ul Zulm.” Keduanya mengumumkan secara terpisah, dalam waktu hampir bersamaan — sinyal jelas bahwa ada diplomasi diam-diam yang berjalan di belakang layar.
Mediatornya tiga negara: Arab Saudi, Qatar, dan Turki. Qatar yang paling aktif — negara ini sudah dua kali terlibat dalam proses damai Pakistan-Afghanistan, termasuk gencatan senjata Oktober 2025 yang akhirnya runtuh. Qatar menyatakan berharap jeda ini membuka jalan menuju perjanjian gencatan senjata berkelanjutan yang melindungi nyawa warga sipil.
Pakistan memberi syarat keras: jika ada serangan lintas batas, serangan drone, atau insiden terorisme di dalam Pakistan, operasi militer langsung dilanjutkan dengan intensitas lebih tinggi. Afghanistan punya klausa serupa — Taliban menegaskan jika ada ancaman terhadap kedaulatan, mereka akan merespons tegas. Jadi ini bukan perdamaian. Ini gencatan senjata bersyarat dengan pemicu yang sangat sensitif.
Key Takeaway: Kesepakatan jeda ini adalah penghentian operasional, bukan penyelesaian konflik — kedua pihak tetap siaga penuh dan bisa kembali berperang dalam hitungan jam jika ada pelanggaran.
Bagaimana Konflik Pakistan-Afghanistan 2026 Bisa Meletus Sepanas Ini?

Konflik ini punya akar panjang, tapi pemicu langsungnya adalah TTP — Tehrik-e-Taliban Pakistan. Pakistan menuduh wilayah Afghanistan digunakan sebagai tempat berlindung aman oleh TTP dan militan lain untuk melancarkan serangan di dalam Pakistan. Taliban Afghanistan membantah, menegaskan mereka tidak mengizinkan serangan terhadap Pakistan dari wilayahnya.
Gencatan senjata yang dimediasi Qatar pada Oktober 2025 sempat memberi harapan, namun implementasinya rapuh dan berbagai perundingan lanjutan gagal menghasilkan kesepakatan yang bertahan lama. Rentetan pelanggaran kecil menumpuk. Kemudian pada 21–22 Februari 2026, Pakistan melancarkan serangan udara ke Nangarhar, Paktika, dan Khost — mengklaim menarget 7 kamp militan TTP dan ISIS-K. Taliban Afghanistan mengklaim serangan mengenai warga sipil.
Puncaknya: 27 Februari 2026, Pakistan meluncurkan Operasi Ghazab Lil-Haq langsung ke Kabul, Kandahar, dan Paktia. Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif menyatakan kedua negara kini berada dalam “perang terbuka.” Eskalasi tercepat dalam sejarah hubungan kedua negara sejak Taliban kembali berkuasa 2021.
Yang paling memperburuk situasi: sedikitnya 75 warga sipil tewas di Afghanistan dan sekitar 115.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat konflik ini, sementara perdagangan lintas batas terhenti total.
Key Takeaway: Ini bukan perang yang pecah tiba-tiba — ini akumulasi 5 tahun ketegangan yang akhirnya menemukan pemicu yang tepat di Februari 2026.
Siapa Mediator di Balik Kesepakatan Jeda Perang Ini?

Tiga negara, tiga peran berbeda. Arab Saudi punya modal kepercayaan — sebelumnya sudah memediasi pembebasan tiga tentara Pakistan yang ditangkap Taliban dalam bentrokan Oktober 2025. Qatar adalah venue diplomatik utama; Doha sudah jadi lokasi perundingan Afghanistan-Pakistan berulang kali. Gencatan senjata Oktober 2025 juga diumumkan dalam perundingan di Doha, Qatar. Turki melengkapi trio ini dengan pengaruhnya di dunia Islam.
China juga mencoba masuk. Beijing sudah mengerahkan utusannya selama sepekan untuk memediasi kedua pihak dan mendesak gencatan senjata segera — namun hasilnya terbatas. Negara-negara Teluk Arab yang biasanya aktif pun sedang sibuk mengurus situasi di Iran. Ini mempersempit pilihan mediator.
Yang menarik: Indonesia juga menyatakan dukungan untuk dialog damai Pakistan-Afghanistan. Posisi ini konsisten dengan politik luar negeri bebas aktif Indonesia yang mendorong penyelesaian konflik kawasan lewat jalur diplomatik. Untuk memahami bagaimana kebijakan diplomasi regional mempengaruhi Indonesia, penting dicatat bahwa stabilitas Asia Selatan berdampak langsung ke rantai pasokan dan migrasi kawasan.
Key Takeaway: Trio Arab Saudi–Qatar–Turki adalah satu-satunya mediator yang punya akses ke kedua pihak sekaligus — dan inilah yang membuat jeda Idul Fitri ini akhirnya bisa terjadi.
Serangan Kabul 17 Maret: Pemicu Diplomatik Jeda Ini?

Timing pengumuman jeda perang ini bukan kebetulan. Dua hari sebelumnya, 17 Maret 2026, terjadi serangan udara yang kemudian memicu tekanan internasional terbesar selama konflik berlangsung. Taliban menyatakan sekitar 408 orang tewas dan lebih dari 200 luka dalam serangan di sebuah rumah sakit rehabilitasi narkoba di Kabul. Pakistan membantah keras, menegaskan serangan hanya menargetkan instalasi militer Taliban.
Angka korban tak bisa diverifikasi secara independen — media Afghanistan dilarang meliput area terdampak oleh intelijen Taliban. Tapi dampak diplomatiknya nyata: seruan internasional untuk gencatan senjata langsung melonjak. PBB, Uni Eropa, China, Rusia, Iran, dan puluhan negara lain mendesak penghentian permusuhan segera.
Pengumuman jeda datang tidak lama setelah otoritas Afghanistan menggelar pemakaman massal di Kabul untuk sebagian korban serangan 17 Maret. Momentumnya jelas: tekanan moral dan diplomatik mencapai titik tertinggi, dan Idul Fitri menjadi jendela sempurna untuk kedua pihak mundur sementara tanpa kehilangan muka.
Key Takeaway: Serangan Kabul 17 Maret adalah katalis — bukan penyebab — jeda ini; tekanan internasional yang mengikutinya yang memaksa kedua pihak mengambil langkah de-eskalasi.
Baca Juga TNI Siaga 1: 7 Fakta Arahan Panglima yang Tuai Sorotan
Apa yang Berubah di Konflik Pakistan-Afghanistan Setelah Jeda Idul Fitri 2026?
Jeda ini berpotensi jadi titik balik, tapi juga bisa sekadar jeda istirahat sebelum eskalasi berikutnya. Beberapa skenario yang perlu dipantau.
Skenario optimis: Jeda Idul Fitri memberi ruang untuk perundingan putaran berikutnya. Qatar dan Arab Saudi kemungkinan besar akan mendorong pertemuan Islamabad–Kabul dalam minggu-minggu setelah Lebaran. Jika berhasil, ini bisa menjadi fondasi gencatan senjata permanen.
Skenario realistis: Serangan TTP dari wilayah Afghanistan berlanjut — karena TTP bukan di bawah kendali penuh Taliban — dan Pakistan menganggap ini pelanggaran, lalu operasi militer dilanjutkan. Siklus yang sama dengan Oktober 2025.
Yang jelas berubah: Skala konflik ini sudah jauh melampaui bentrokan perbatasan biasa. Dengan 115.000 pengungsi, ratusan korban sipil, dan pengeboman langsung ke ibu kota Kabul, tekanan internasional untuk solusi permanen kini jauh lebih besar dari sebelumnya.
| Aspek | Sebelum Jeda | Setelah Jeda (Potensi) |
| Status operasi militer | Aktif — Operasi Ghazab Lil-Haq | Ditangguhkan sementara |
| Mediator aktif | Qatar, Saudi, Turki | Sama + kemungkinan tambahan |
| Pengungsi | 115.000+ (UNHCR) | Diharapkan mulai kembali |
| Perdagangan perbatasan | Terhenti total | Belum ada kepastian |
FAQ
Kapan jeda perang Pakistan-Afghanistan untuk Idul Fitri mulai berlaku?
Jeda berlaku mulai tengah malam 18/19 Maret 2026 hingga tengah malam 23/24 Maret 2026. Pakistan menyebutnya penghentian sementara Operasi Ghazab Lil-Haq, sementara Afghanistan menangguhkan Operasi Rad-ul Zulm. Keduanya mengumumkan secara terpisah tapi hampir bersamaan pada Rabu, 18 Maret 2026.
Mengapa Pakistan menyerang Afghanistan sejak Februari 2026?
Pakistan mengklaim serangan menargetkan kamp militan TTP (Tehrik-e-Taliban Pakistan) dan ISIS-K yang beroperasi dari wilayah Afghanistan. Islamabad menuduh Kabul gagal mencegah serangan teroris lintas batas ke Pakistan, termasuk pemboman masjid di Islamabad (6 Februari 2026) yang menewaskan 31 orang. Taliban Afghanistan membantah semua tuduhan ini.
Apakah jeda Idul Fitri ini akan berujung pada perdamaian permanen?
Kemungkinannya belum besar. Gencatan senjata Oktober 2025 — yang juga dimediasi Qatar dan Turki — sudah terbukti rapuh dan runtuh setelah serangkaian pelanggaran kecil. Namun skala konflik 2026 yang jauh lebih besar, ditambah tekanan internasional yang lebih kuat, setidaknya memberi peluang yang lebih serius untuk perundingan substantif pasca-Lebaran.
Siapa yang memediasi jeda perang Pakistan-Afghanistan ini?
Arab Saudi, Qatar, dan Turki. Ketiganya sudah terlibat dalam mediasi konflik ini sejak Oktober 2025. Arab Saudi berperan penting dalam pembebasan tiga tentara Pakistan dari tahanan Taliban, Qatar menjadi venue perundingan utama, dan Turki mendukung dari sisi pengaruh diplomatiknya di dunia Islam.
Berapa korban jiwa dalam konflik Pakistan-Afghanistan 2026?
Angka korban masih diperdebatkan oleh kedua pihak. UNAMA mencatat minimal 75 warga sipil Afghanistan tewas sejak bentrokan meningkat 26 Februari 2026. Afghanistan mengklaim 408 orang tewas hanya dalam serangan 17 Maret di Kabul — Pakistan membantah. Pakistan mengklaim telah menewaskan 684 pasukan Taliban sejak operasi dimulai — Afghanistan menyangkal.
Apakah konflik ini berdampak ke Indonesia?
Tidak langsung, tapi ada dampak tidak langsung. Ketidakstabilan Asia Selatan mempengaruhi rantai pasokan regional, harga energi, dan potensi arus pengungsi. Indonesia secara resmi mendukung dialog damai dan penyelesaian konflik lewat jalur diplomasi, konsisten dengan posisi politik luar negeri bebas aktif.
Referensi
- Al Jazeera — Pakistan and Afghanistan agree to temporary Eid al-Fitr ‘pause’ in conflict — laporan utama kesepakatan jeda, 18 Maret 2026
- The Express Tribune — Pakistan, Afghanistan agree on Eid truce — detail pernyataan resmi Pakistan dan Taliban, 18 Maret 2026
- Wikipedia — 2026 Afghanistan–Pakistan conflict — kronologi lengkap konflik sejak Februari 2026
- UNHCR via Posnews.co.id — 115.000 pengungsi akibat konflik — data pengungsi, Maret 2026
- The Peninsula Qatar — Qatar welcomes temporary truce — pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Qatar