
Matahari buatan China makin dekat menghasilkan listrik fusi. Proyek BEST ditargetkan mendemonstrasikan pembangkitan listrik sekitar 2030 setelah teknologi magnet mencapai milestone baru.
China semakin dekat dengan salah satu ambisi energi terbesar dalam sejarah manusia: menghasilkan listrik dengan meniru proses yang terjadi di dalam Matahari.
caibo02 – Proyek yang populer disebut sebagai “matahari buatan China” kini memasuki fase engineering yang semakin serius. China menargetkan fasilitas Burning Plasma Experimental Superconducting Tokamak (BEST) di Hefei, Provinsi Anhui, dapat mendemonstrasikan pembangkitan listrik berbasis fusi nuklir sekitar 2030.
Target tersebut bukan sekadar wacana jangka panjang. Pada Juni 2026, dua magnet superkonduktor yang dikembangkan China berhasil menyelesaikan technical acceptance dan pengujian parameter penuh. Salah satunya merupakan high-temperature superconducting central solenoid coil yang menjadi komponen penting fasilitas eksperimental fusi generasi berikutnya.
Perangkat eksperimental tersebut dijadwalkan selesai pada akhir 2027, sementara demonstrasi awal listrik dari reaksi fusi dibidik sekitar 2030.
Jika target ini berhasil dicapai, milestone tersebut dapat membawa teknologi fusi satu langkah lebih dekat dari laboratorium menuju pembangkit energi nyata.
Namun jangan langsung membayangkan pada 2030 rumah-rumah di China sudah menggunakan listrik dari “matahari buatan”.
Target saat ini lebih tepat disebut demonstrasi pembangkitan listrik dari fusi, bukan operasi pembangkit listrik komersial berskala besar.
Matahari Buatan China Targetkan Listrik Fusi pada 2030

Chinese Academy of Sciences (CAS) pada Januari 2026 mengungkapkan China mempercepat transisi teknologi fusi nuklir dari penelitian fundamental menuju large-scale engineering.
Salah satu proyek utamanya adalah BEST.
Fasilitas tersebut dirancang untuk mengejar dua milestone yang sangat penting: menghasilkan net fusion power gain dan mendemonstrasikan pembangkitan listrik dari energi fusi sekitar 2030.
Target tersebut bahkan digambarkan sebagai momen untuk menyalakan “lampu pertama” yang memperoleh energi dari fusi nuklir.
BEST sedang dibangun di Hefei, kota yang sudah menjadi salah satu pusat penelitian fusi terpenting di China.
Wilayah tersebut juga menjadi rumah bagi Experimental Advanced Superconducting Tokamak atau EAST, fasilitas penelitian yang selama bertahun-tahun mendapat julukan “artificial sun”.
EAST dan BEST memiliki hubungan yang sangat important dalam roadmap fusi China.
EAST berfungsi sebagai experimental platform untuk mempelajari bagaimana plasma bersuhu sangat tinggi dapat dikendalikan dan dipertahankan dalam waktu lama.
BEST kemudian membawa teknologi tersebut menuju tahap yang lebih dekat dengan produksi energi.
Bukan Matahari Asli, Lalu Kenapa Disebut Matahari Buatan?
Istilah matahari buatan sebenarnya merupakan nickname.
China tidak sedang membangun bola api raksasa seperti Matahari di luar angkasa.
Fasilitas tersebut menggunakan teknologi nuclear fusion atau fusi nuklir, yaitu proses penggabungan inti atom ringan untuk menghasilkan inti yang lebih berat sekaligus melepaskan energi.
Prinsip dasarnya mirip dengan proses yang membuat Matahari dan bintang-bintang bersinar.
Bedanya, Matahari memiliki gravitasi luar biasa besar yang membantu menciptakan kondisi untuk mempertahankan reaksi fusi.
Di Bumi, ilmuwan tidak memiliki luxury tersebut.
Karena itu, bahan bakar harus dipanaskan hingga menjadi plasma dengan temperatur lebih dari 100 juta derajat Celsius.
Temperatur tersebut bahkan beberapa kali lebih panas daripada inti Matahari.
Sounds crazy, tetapi ada alasannya.
Tanpa tekanan gravitasi sebesar Matahari, temperatur yang jauh lebih tinggi diperlukan untuk meningkatkan peluang inti atom bertabrakan dan melakukan fusi.
Bagaimana Menahan Plasma 100 Juta Derajat?
Ini menjadi salah satu engineering challenge terbesar.
Tidak ada material biasa yang dapat disentuhkan secara langsung dengan plasma bersuhu lebih dari 100 juta derajat Celsius dan tetap bertahan.
Solusinya adalah membuat plasma tersebut seolah-olah “mengambang”.
Tokamak menggunakan medan magnet sangat kuat untuk mengurung plasma agar tidak menyentuh dinding reaktor secara langsung.
Karena partikel plasma memiliki muatan listrik, pergerakannya dapat dipengaruhi medan magnet.
That’s where superconducting magnets become crucial.
Magnet superkonduktor memungkinkan tokamak menghasilkan medan magnet kuat dengan efisiensi yang lebih tinggi dibanding sistem konvensional.
Pada Juni 2026, China mengumumkan dua magnet superkonduktor domestiknya telah melewati technical acceptance dan full-condition parameter testing.
Salah satunya adalah central solenoid berbasis high-temperature superconductor.
Pencapaian tersebut menjadi milestone penting karena magnet merupakan salah satu komponen paling critical untuk mempertahankan plasma dalam sistem fusi.
China Juga Bangun Magnet Raksasa 582 Ton
Ambisi fusi China semakin terlihat dari skala engineering yang sedang dikembangkan.
Pada 2026, China menyelesaikan magnet superkonduktor raksasa dengan berat sekitar 582 ton dan panjang sekitar 21 meter.
Magnet toroidal-field tersebut dikembangkan oleh Institute of Plasma Physics di bawah Chinese Academy of Sciences.
Fungsinya adalah membantu menciptakan medan magnet yang mampu mengurung plasma bersuhu lebih dari 100 juta derajat Celsius.
Ukuran komponen ini menunjukkan betapa complicated teknologi fusi sebenarnya.
Kita tidak hanya berbicara tentang membuat plasma panas.
Engineers harus mengontrol plasma yang secara natural sangat unstable, mempertahankannya cukup lama, mendapatkan energi lebih besar daripada energi yang digunakan untuk mempertahankan reaksi, menangkap panas yang dihasilkan, lalu mengubah panas tersebut menjadi listrik.
Setiap tahap memiliki problem fisika dan engineering sendiri.
EAST Sudah Pecahkan Rekor Plasma 1.066 Detik
China sebenarnya sudah memiliki track record penting melalui EAST.
Pada Januari 2025, EAST berhasil mempertahankan high-confinement plasma selama 1.066 detik, atau hampir 18 menit.
Rekor tersebut jauh melampaui pencapaian sebelumnya yang berada di angka 403 detik.
Mengapa durasi ini penting?
Pembangkit fusi komersial nantinya tidak cukup hanya menghasilkan reaksi fusi selama sepersekian detik.
Sistem harus mampu mempertahankan kondisi plasma secara stabil dalam waktu panjang agar pembangkitan energi dapat berlangsung secara continuous dan economically useful.
Jadi ketika EAST berhasil mempertahankan plasma lebih dari 1.000 detik, itu bukan berarti reaktor tersebut sudah menghasilkan listrik komersial.
Namun eksperimen tersebut membuktikan bahwa manusia semakin capable mempertahankan salah satu kondisi fundamental yang diperlukan untuk pembangkit fusi masa depan.
EAST basically menjadi laboratory playground untuk memecahkan problem yang nantinya harus diselesaikan BEST dan generasi reaktor berikutnya.
BEST Berbeda dengan EAST
Ini bagian yang sering membuat pemberitaan soal “matahari buatan China” sedikit confusing.
EAST dan BEST bukan fasilitas yang sama.
EAST adalah Experimental Advanced Superconducting Tokamak yang sudah beroperasi sejak 2006.
Tujuan utamanya adalah penelitian plasma dan operasi tokamak dalam kondisi steady-state.
Sementara BEST atau Burning Plasma Experimental Superconducting Tokamak merupakan fasilitas generasi berikutnya yang sedang dibangun.
BEST memiliki target lebih ambitious.
Chinese Academy of Sciences menyebut proyek tersebut dirancang untuk mencapai net fusion power gain sekaligus mendemonstrasikan pembangkitan listrik berbasis fusi sekitar 2030.
Jadi ketika muncul headline bahwa “matahari buatan China akan menghasilkan listrik pada 2030”, target tersebut lebih tepat dikaitkan dengan BEST dan roadmap fusi China secara keseluruhan, bukan berarti EAST tiba-tiba berubah menjadi pembangkit listrik komersial.
Apa Itu Net Fusion Power Gain?
Ini merupakan salah satu holy grail penelitian fusi.
Secara sederhana, ilmuwan ingin reaksi fusi menghasilkan energi lebih besar dibanding energi yang diberikan untuk memanaskan dan mempertahankan plasma.
Konsep tersebut sering direpresentasikan menggunakan parameter Q.
Jika Q lebih besar dari 1 dalam konteks plasma, energi fusi yang dihasilkan melampaui energi pemanasan eksternal yang masuk ke plasma.
Namun ada detail penting.
Net gain pada plasma tidak otomatis berarti seluruh pembangkit menghasilkan surplus listrik.
Reaktor tetap membutuhkan energi untuk magnet, pendinginan, pompa, sistem vakum, pemanasan plasma, pengolahan bahan bakar, hingga berbagai supporting systems.
Karena itu, perjalanan dari scientific breakeven menuju commercially viable fusion power plant masih panjang.
BEST diharapkan membantu menjembatani gap tersebut.
Kalau Berhasil, Kenapa Fusi Bisa Jadi Game Changer?
Fusi sering disebut sebagai salah satu kandidat ultimate clean energy.
Salah satu skenario bahan bakar paling umum menggunakan isotop hidrogen seperti deuterium dan tritium.
Deuterium tersedia dalam air laut dalam jumlah sangat besar, sementara tritium dapat diproduksi menggunakan lithium dalam sistem reaktor masa depan.
Ketika deuterium dan tritium melakukan fusi, keduanya menghasilkan helium, neutron, dan energi dalam jumlah besar.
Keunggulan utama fusi adalah densitas energinya yang sangat tinggi.
Bahan bakar dalam jumlah relatif kecil secara teoritis dapat menghasilkan energi sangat besar.
Operasinya juga tidak menghasilkan emisi karbon dari proses fusi itu sendiri.
Inilah yang membuat fusion sounds almost too good to be true: energi besar, bahan bakar relatif melimpah, dan emisi operasional rendah.
Namun problem-nya selalu sama.
Membuat fusi terjadi itu memungkinkan.
Membuatnya stabil, menghasilkan surplus energi, tahan lama, dan murah adalah bagian yang sangat sulit.
Apakah Fusi Lebih Aman daripada PLTN?
Fusi berbeda fundamental dari pembangkit nuklir konvensional.
PLTN saat ini umumnya menggunakan nuclear fission, yaitu memecah inti atom berat seperti uranium.
Fusi melakukan kebalikannya: menggabungkan inti atom ringan.
Reaktor fusi juga tidak mempertahankan chain reaction seperti reaktor fisi.
Jika kondisi plasma tidak lagi tepat, reaksi fusi akan berhenti.
Karena itu, runaway chain reaction seperti skenario tertentu pada reaktor fisi bukan mekanisme utama yang sama pada pembangkit fusi.
Namun bukan berarti fusion reactor zero-risk.
Tritium bersifat radioaktif.
Neutron berenergi tinggi dapat membuat material struktur reaktor menjadi teraktivasi dan mengalami degradasi.
Sistem cryogenic, magnet superkonduktor, serta plasma berenergi tinggi juga menciptakan engineering hazards yang harus dikelola.
Jadi lebih tepat mengatakan fusi memiliki profil risiko yang berbeda dan sejumlah keuntungan keselamatan intrinsik, bukan mengatakan teknologi tersebut sepenuhnya bebas risiko.
Apakah Listrik Fusi Akan Murah?
Ini pertanyaan trillion-dollar.
Secara teoritis, bahan bakar fusi sangat energy dense.
Namun harga listrik tidak ditentukan hanya oleh harga bahan bakarnya.
Pembangkit membutuhkan tokamak raksasa, magnet superkonduktor, material tahan neutron, sistem pendinginan, pembangkit uap atau sistem konversi energi, hingga maintenance yang kemungkinan sangat kompleks.
Jika reactor cost terlalu mahal, listrik fusi tetap dapat menjadi mahal meskipun bahan bakarnya relatif murah.
Itulah mengapa China juga fokus pada industrialization.
Dalam pengembangan magnet superkonduktor, misalnya, tim China melaporkan biaya material tertentu berhasil diturunkan dari sekitar 400 yuan per meter menjadi sekitar 100 yuan per meter.
Cost reduction seperti ini sangat important.
Commercial fusion tidak akan berhasil hanya karena physics-nya bekerja.
Economics-nya juga harus make sense.
Tahun 2030 Bukan Berarti Listrik Fusi Langsung Masuk Rumah
Ini mungkin misconception paling penting untuk dihindari.
Target China sekitar 2030 adalah demonstrasi pembangkitan listrik berbasis fusi.
Itu berbeda dengan membangun pembangkit komersial yang memasok listrik jutaan rumah selama 24 jam setiap hari.
Demonstration reactor biasanya berfungsi untuk membuktikan bahwa sistem teknologi dapat bekerja secara terintegrasi.
Setelah itu masih ada berbagai tahap.
Reliability harus dibuktikan.
Maintenance harus dibuat feasible.
Material harus mampu bertahan menghadapi bombardment neutron.
Tritium fuel cycle perlu dikembangkan.
Biaya pembangunan harus turun.
Regulasi keselamatan perlu disiapkan.
Kemudian barulah teknologi memiliki chance untuk masuk deployment komersial dalam skala besar.
Jadi 2030 sebaiknya dilihat sebagai major checkpoint, bukan finish line.
China Sedang Mengejar Posisi Terdepan dalam Perlombaan Fusi
China bukan satu-satunya negara yang mengejar fusion energy.
Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Korea Selatan, negara-negara Uni Eropa, serta berbagai perusahaan swasta juga mengembangkan teknologi masing-masing.
Ada pula ITER, proyek fusi internasional besar yang dibangun di Prancis dengan partisipasi China, Uni Eropa, India, Jepang, Korea Selatan, Rusia, dan Amerika Serikat.
Namun China terlihat increasingly aggressive dalam investasi dan industrialisasi teknologi fusi.
Pada Fusion Energy Technology and Industry Conference 2026 di Hefei, proyek procurement terkait industri fusi senilai sekitar 10 miliar yuan atau US$1,37 miliar dilaporkan akan diselesaikan sepanjang 2026.
Lebih dari 1.500 peserta industri juga hadir dalam konferensi tersebut.
Ini menunjukkan fusion di China mulai bergerak dari domain laboratorium menuju industrial ecosystem.
Dan transition tersebut sangat penting.
Sebab pembangkit fusi membutuhkan supply chain yang jauh lebih besar daripada satu institut penelitian.
Fusi Bisa Mengubah Peta Energi Dunia
Jika China atau negara lain akhirnya berhasil membuat pembangkit fusi yang economically viable, impact geopolitiknya bisa enormous.
Negara tidak lagi harus terlalu bergantung pada batu bara, minyak, atau gas untuk menghasilkan energi dalam skala besar.
Kebutuhan terhadap impor bahan bakar fosil dapat turun.
Emisi karbon sektor listrik juga berpotensi berkurang secara drastis jika teknologi tersebut benar-benar dapat diterapkan dalam skala besar.
Namun fusi juga tidak akan automatically menggantikan energi terbarukan.
China sendiri menargetkan pada 2030 energi nonfosil menyumbang sekitar 25 persen konsumsi energi, sementara kapasitas gabungan tenaga angin dan surya ditargetkan mencapai lebih dari separuh total kapasitas pembangkit listrik negara tersebut.
Artinya, fusion kemungkinan menjadi additional layer dalam sistem energi masa depan, bukan replacement instan untuk solar panel, turbin angin, hidro, baterai, maupun teknologi nuklir yang sudah tersedia.
Perlombaan Menuju “Lampu Fusi Pertama” Dimulai
Perkembangan terbaru matahari buatan China menunjukkan teknologi fusi mulai bergerak dari pertanyaan “apakah mungkin?” menuju pertanyaan yang jauh lebih practical: “kapan bisa menghasilkan listrik secara konsisten?”
BEST menjadi salah satu eksperimen paling ambitious untuk menjawab pertanyaan tersebut.
China menargetkan fasilitas ini dapat menunjukkan net fusion power gain dan mendemonstrasikan pembangkitan listrik sekitar 2030.
Keberhasilan pengujian magnet superkonduktor pada 2026 menjadi salah satu milestone penting menuju target tersebut.
Tetapi perjalanan masih jauh.
Manusia harus mampu mempertahankan plasma lebih dari 100 juta derajat, menghasilkan energi bersih positif, mengubah energi neutron menjadi panas dan listrik, membuat material reaktor bertahan selama bertahun-tahun, mengelola tritium, serta melakukan semuanya dengan biaya yang commercially competitive.
That’s the real challenge.
Jika BEST berhasil menyalakan listrik dari fusi pada 2030, pencapaiannya mungkin belum membuat tagihan listrik rumah langsung lebih murah.
Namun secara historis, momen tersebut bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.
Selama miliaran tahun, manusia hanya bisa melihat energi fusi bekerja dari kejauhan melalui Matahari dan bintang-bintang.
Kini China, bersama berbagai negara lain, sedang mencoba membawa proses yang sama ke dalam sebuah mesin di Bumi.
Dan untuk pertama kalinya, target menyalakan listrik dari “matahari buatan” itu mulai memiliki tanggal yang semakin konkret: sekitar 2030.
Referensi
- Chinese Academy of Sciences — China Accelerates Nuclear Fusion Engineering, Targeting Power Generation Demonstration by 2030, 19 Januari 2026.
- CGTN — China’s “Artificial Sun” Targets First Electricity Output by 2030, 5 Juli 2026.
- Global Times — China’s “Artificial Sun” Hits New Milestone, Targets 2030 for First Electricity Output, Juli 2026.
- China Daily — Fusion Energy Drive Entering a Decisive Phase, 18–19 Januari 2026.
- Chinese Academy of Sciences/Institute of Plasma Physics — perkembangan EAST, BEST, dan penelitian controlled nuclear fusion di Hefei.
- Pemerintah China/Xinhua — China Targets Clean, Low-carbon New Energy System by 2030, 25 Juni 2026.






