
Gunung Anak Krakatau erupsi 20 kali pada 17 Agustus 2026 dengan kolom abu mencapai 400 meter di atas puncak. Status gunung masih Level III Siaga.
caibo02 – Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang cukup intense. Gunung api yang berada di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, tersebut tercatat mengalami erupsi sebanyak 20 kali sepanjang Senin, 17 Agustus 2026. Dalam beberapa letusan, kolom abu bahkan membubung hingga sekitar 400 meter di atas puncak.
Rangkaian erupsi terjadi sejak dini hari hingga malam. Beberapa letusan bisa diamati secara visual dengan kemunculan kolom abu berwarna kelabu sampai hitam, sedangkan beberapa erupsi lainnya tidak terlihat secara langsung tetapi berhasil direkam melalui seismograf. Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berlangsung dan mengalami fluktuasi.
Meski berita mengenai erupsi berulang kali terdengar cukup alarming, masyarakat tidak perlu langsung panik. Hal paling penting adalah mengikuti informasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Badan Geologi. Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III atau Siaga, dengan rekomendasi agar masyarakat, wisatawan, pendaki, dan pihak lain tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung.
Gunung Anak Krakatau Erupsi 20 Kali dalam Sehari
PVMBG mencatat Gunung Anak Krakatau mengalami 20 kali erupsi pada 17 Agustus 2026. Menurut laporan ANTARA, aktivitas tersebut dikonfirmasi Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau di Hargopancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno. Aktivitas gunung masih fluktuatif sehingga pemantauan terus dilakukan selama 24 jam melalui pengamatan visual maupun instrumental.
Berdasarkan laporan pengamatan yang dikutip IDN Times Lampung, rangkaian erupsi mulai tercatat sekitar pukul 01.30 WIB. Erupsi pertama memiliki amplitudo maksimum 57 milimeter dengan durasi sekitar 36 detik. Setelah itu, erupsi kembali terekam pada pukul 02.13 WIB dengan amplitudo maksimum 61 milimeter selama 53 detik.
Aktivitas belum berhenti. Pada pukul 03.04 WIB, erupsi kembali terekam dengan amplitudo maksimum 64 milimeter dan berlangsung selama 55 detik. Sekitar 25 menit kemudian, tepatnya pukul 03.29 WIB, seismograf kembali mencatat erupsi dengan amplitudo maksimum 57 milimeter selama 43 detik.
Erupsi berikutnya tercatat pada pukul 04.05 WIB dan 04.20 WIB. Artinya, ketika sebagian masyarakat masih tidur atau baru bersiap memulai aktivitas pagi, Anak Krakatau sudah beberapa kali menunjukkan aktivitas erupsi. Pretty intense untuk satu rangkaian aktivitas dalam hitungan jam.
Kolom Abu Anak Krakatau Capai 400 Meter

Salah satu erupsi yang cukup menonjol terjadi pada pukul 06.26 WIB. Saat itu, kolom abu teramati mencapai sekitar 400 meter di atas puncak, atau sekitar 557 meter di atas permukaan laut. Kolom abu terlihat berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan bergerak ke arah utara hingga barat laut.
Erupsi tersebut terekam pada seismograf dengan amplitudo maksimum 57 milimeter dan berlangsung selama sekitar 107 detik. Durasi ini menjadi salah satu yang cukup panjang dalam rangkaian erupsi Anak Krakatau pada hari tersebut.
Pada pukul 09.22 WIB, Anak Krakatau kembali erupsi dengan kolom abu sekitar 400 meter di atas puncak atau sekitar 557 meter di atas permukaan laut. Warna kolom abu kembali teramati kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal, kali ini bergerak ke arah barat laut. Erupsi tersebut terekam dengan amplitudo maksimum 57 milimeter dan berlangsung sekitar 32 detik.
Perlu diperhatikan, angka 400 meter dalam laporan ini merujuk pada ketinggian kolom abu di atas puncak gunung, bukan ketinggian total dari permukaan laut. Karena puncak Anak Krakatau berada sekitar 157 meter di atas permukaan laut dalam laporan pengamatan tersebut, kolom abu mencapai kurang lebih 557 meter di atas permukaan laut.
Erupsi Berlanjut dari Siang sampai Malam
Aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak langsung mereda setelah pagi hari. Memasuki siang sampai sore, erupsi kembali tercatat pada pukul 12.22, 12.43, 12.44, 14.28, 15.14, hingga 15.15 WIB.
Pada pukul 18.01 WIB, kolom abu kembali terlihat sekitar 150 meter di atas puncak atau 307 meter di atas permukaan laut. Abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan mengarah ke timur laut. Erupsi tersebut memiliki amplitudo maksimum 42 milimeter dengan durasi sekitar 26 detik.
Sekitar 25 menit kemudian, tepatnya pukul 18.26 WIB, erupsi terjadi lagi. Kali ini kolom abu mencapai sekitar 300 meter di atas puncak. Kolom abu terlihat berwarna kelabu hingga hitam dengan arah ke timur laut. Seismograf merekam amplitudo maksimum 30 milimeter dengan durasi sekitar 28 detik.
Belum selesai, pada pukul 18.35 WIB Anak Krakatau kembali mengalami erupsi. Kolom abu mencapai sekitar 300 meter di atas puncak atau 457 meter di atas permukaan laut. Warna abu terlihat hitam dengan intensitas tebal dan kembali bergerak ke arah timur laut.
Erupsi Terakhir Terekam Pukul 22.10 WIB
Menjelang malam, aktivitas vulkanik masih berlanjut. Erupsi tercatat pada pukul 19.43 WIB dan 19.44 WIB. Kedua aktivitas tersebut tidak dapat diamati secara visual, tetapi berhasil terekam melalui seismograf.
Erupsi pukul 19.44 WIB tercatat memiliki amplitudo maksimum 51 milimeter dan berlangsung sekitar 92 detik. Kemudian, erupsi terakhir yang dilaporkan pada 17 Agustus terjadi pukul 22.10 WIB. Visual letusan saat itu tidak teramati, tetapi seismograf mencatat amplitudo maksimum 53 milimeter dengan durasi mencapai 165 detik.
Kalau dilihat dari rangkaian waktunya, aktivitas Anak Krakatau pada hari tersebut memang berlangsung hampir sepanjang hari. Dari pukul 01.30 dini hari sampai pukul 22.10 WIB, erupsi muncul secara berulang dengan karakteristik dan durasi yang bervariasi.
Namun, jumlah erupsi yang banyak tidak bisa secara sederhana digunakan untuk memprediksi apa yang akan terjadi berikutnya. Kondisi gunung api harus dibaca melalui berbagai parameter, mulai dari kegempaan, tremor, deformasi, gas vulkanik, visual kawah, hingga data instrumental lainnya. Itu sebabnya monitoring dari lembaga resmi jauh lebih penting dibanding menyimpulkan kondisi hanya berdasarkan video atau jumlah letusan.
Status Gunung Anak Krakatau Masih Level III Siaga
Di tengah rangkaian erupsi tersebut, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. ANTARA melaporkan peningkatan aktivitas pada awal Juli sebelumnya menjadi dasar Badan Geologi menaikkan status Anak Krakatau dari Level II Waspada menjadi Level III Siaga.
Status Siaga menunjukkan aktivitas gunung membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi dan masyarakat perlu mematuhi rekomendasi keselamatan yang telah ditetapkan. Namun, status ini juga tidak otomatis berarti kawasan pesisir Lampung dan Banten harus dikosongkan atau bahwa erupsi besar pasti akan terjadi.
Badan Geologi sebelumnya menegaskan masyarakat di sekitar Anak Krakatau, termasuk pengunjung, wisatawan, dan pendaki, tidak diperbolehkan memasuki serta melakukan kegiatan di dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Ancaman yang perlu diwaspadai antara lain awan panas, lava, lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat.
Masyarakat di kawasan pantai Banten dan Lampung juga diminta tetap tenang serta tidak mempercayai informasi yang tidak dapat diverifikasi mengenai erupsi Anak Krakatau. Badan Geologi mengingatkan masyarakat untuk mengikuti arahan BPBD setempat dan informasi resmi PVMBG maupun MAGMA Indonesia.
Aktivitas Anak Krakatau Masih Fluktuatif
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Suwarno menjelaskan aktivitas gunung masih fluktuatif. Meski pada 17 Agustus tercatat 20 kali erupsi, pada saat keterangannya disampaikan keesokan harinya tidak tercatat erupsi baru. Pemantauan tetap dilakukan selama 24 jam karena aktivitas kegempaan dan hembusan masih terekam alat pemantau.
Kondisi naik-turun semacam ini merupakan alasan penting mengapa publik sebaiknya tidak hanya berpatokan pada satu momen. Gunung api merupakan sistem alam yang dinamis. Hari dengan banyak erupsi tidak otomatis berarti keesokan harinya akan sama, begitu pula periode yang terlihat lebih tenang bukan berarti aktivitas magmatik telah sepenuhnya berhenti.
Sebelum rangkaian 20 erupsi tersebut, Anak Krakatau memang sudah memperlihatkan aktivitas selama beberapa bulan terakhir. PVMBG sebelumnya mencatat 19 kali erupsi dalam periode 2 Juni hingga 11 Juli 2026.
Pada 8 Juli 2026, misalnya, tujuh aktivitas erupsi tercatat sejak dini hari hingga pagi. Saat itu ketinggian semburan abu bervariasi dan dilaporkan mencapai sekitar 400 meter. Masyarakat serta nelayan juga telah diingatkan agar tidak mendekati Anak Krakatau dalam radius 3 kilometer.
Kenapa Gunung Anak Krakatau Selalu Jadi Perhatian?
Nama Krakatau memiliki posisi tersendiri dalam sejarah vulkanologi dunia. Kawasan ini tidak bisa dilepaskan dari letusan dahsyat Krakatau pada 1883 yang menimbulkan tsunami dan dampak besar di kawasan Selat Sunda.
Gunung Anak Krakatau sendiri kemudian tumbuh dari kawasan kaldera Krakatau. Karena berada di Selat Sunda, aktivitasnya menjadi perhatian bagi dua wilayah yang memiliki garis pantai menghadap kawasan tersebut, yakni Lampung dan Banten.
Peristiwa 22 Desember 2018 juga menjadi reminder penting. Badan Geologi mencatat aktivitas Anak Krakatau saat itu disertai longsoran sebagian tubuh gunung yang kemudian memicu tsunami di kawasan Selat Sunda. Setelah peristiwa tersebut, rangkaian erupsi berskala relatif rendah berlangsung sebagai bagian dari fase konstruksi atau pertumbuhan kembali tubuh Anak Krakatau hingga Desember 2023.
Historical context inilah yang membuat setiap peningkatan aktivitas Anak Krakatau naturally mendapat perhatian besar. Namun, konteks sejarah juga harus disampaikan secara proporsional agar tidak menimbulkan kepanikan. Erupsi yang terjadi sekarang tidak otomatis berarti peristiwa seperti 1883 atau 2018 akan kembali terjadi.
Jangan Langsung Percaya Video Erupsi di Media Sosial
Saat aktivitas gunung api meningkat, satu problem yang hampir selalu muncul adalah penyebaran video lama atau konten yang diberikan caption seolah-olah baru terjadi. Di era TikTok, Instagram, X, dan WhatsApp, sebuah video dramatis bisa menyebar jauh lebih cepat dibanding klarifikasi resmi.
Kasus semacam ini bahkan pernah terjadi pada Anak Krakatau pada Juli 2026. Badan Geologi mengeluarkan laporan khusus pada 4 Juli untuk mengonfirmasi sebuah video yang diklaim memperlihatkan erupsi Gunung Anak Krakatau dari atas kapal. Setelah diverifikasi, video tersebut ternyata bukan rekaman erupsi Anak Krakatau yang sedang terjadi saat itu.
Badan Geologi meminta masyarakat tidak mempercayai maupun menyebarkan video yang belum terverifikasi. Informasi resmi mengenai aktivitas Anak Krakatau dapat diperoleh melalui kanal Badan Geologi, PVMBG, dan MAGMA Indonesia.
So, ketika melihat video gunung meletus dengan caption seperti “Krakatau meledak besar malam ini”, jangan langsung share ke grup keluarga. Check first. Tanggal video, lokasi, sumber pertama, serta informasi dari lembaga resmi perlu diverifikasi sebelum sebuah konten dianggap menggambarkan kondisi terkini.
Apa yang Harus Dilakukan Masyarakat?
Bagi masyarakat umum, langkah paling penting saat ini bukan panik, tetapi meningkatkan awareness. Jangan memasuki radius bahaya yang sudah ditetapkan, terutama untuk kebutuhan wisata, memancing, mengambil foto, atau membuat konten.
Gunung Anak Krakatau memang menawarkan lanskap yang iconic dan secara visual sangat menarik. Namun, ketika status berada pada Level III Siaga, mendekati kawah untuk mendapatkan footage yang dramatic jelas bukan keputusan worth the risk.
Rekomendasi resmi saat ini menetapkan radius larangan aktivitas sejauh 3 kilometer dari pusat aktivitas. Masyarakat juga perlu mewaspadai ancaman awan panas, lava, lontaran material pijar, dan hujan abu lebat.
Untuk masyarakat di pesisir Lampung dan Banten, arahan resmi Badan Geologi adalah tetap tenang, tidak mudah mempercayai isu mengenai erupsi yang dikaitkan dengan tsunami tanpa dasar resmi, serta mengikuti arahan BPBD setempat.
Gunung Anak Krakatau Erupsi 20 Kali, Waspada Tanpa Perlu Panik
Rangkaian Gunung Anak Krakatau erupsi 20 kali dengan kolom abu mencapai 400 meter menjadi reminder bahwa salah satu gunung api paling aktif dan iconic di Indonesia tersebut masih menunjukkan dinamika vulkanik yang perlu diperhatikan. Aktivitas berlangsung sejak dini hari hingga malam pada 17 Agustus 2026, dengan sejumlah letusan menghasilkan kolom abu kelabu hingga hitam.
Status Anak Krakatau masih berada pada Level III Siaga. Karena itu, masyarakat, wisatawan, pendaki, maupun pihak lain harus menghormati radius aman 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung. Aturan tersebut bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari mitigasi terhadap potensi bahaya vulkanik yang dapat berubah dengan cepat.
Pada saat yang sama, penting untuk tidak mengubah kewaspadaan menjadi kepanikan. Dua hal tersebut sangat berbeda. Waspada berarti memahami risiko, mengikuti perkembangan data, dan menaati rekomendasi otoritas. Panik justru sering membuat informasi tidak terverifikasi menyebar lebih cepat.
Anak Krakatau memang sedang aktif dan 20 erupsi dalam sehari jelas menjadi perkembangan yang layak mendapat perhatian. Namun untuk memahami apa yang benar-benar terjadi berikutnya, data resmi tetap menjadi pegangan utama. Di tengah derasnya video dan informasi di media sosial, sometimes tindakan paling responsible justru sederhana: jangan mendekat, jangan asal share, dan selalu check sumber resmi.
Referensi
- ANTARA — Gunung Anak Krakatau alami 20 kali erupsi pada tanggal 17 Agustus, 18 Agustus 2026.
- IDN Times Lampung — Gunung Anak Krakatau Sehari Erupsi 20 Kali, Status Masih Siaga, 18 Agustus 2026.
- Badan Geologi, Kementerian ESDM — Laporan Khusus Konfirmasi Video Hoaks G. Anak Krakatau Tanggal 4 Juli 2026.
- ANTARA — PVMBG sebut Gunung Anak Krakatau 19 kali erupsi pada Juni-Juli 2026, 13 Juli 2026.
- detikSumbagsel — Gunung Anak Krakatau Alami 7 Kali Erupsi Hari Ini, 8 Juli 2026.





