Ringkasan Cepat:
Kupang, NTT, 18 Agustus 2026 — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 1.624 gempa bumi susulan mengguncang Flores dan sekitarnya hingga Senin (17/8) pukul 11.00 WIB, setelah gempa utama berkekuatan M7,7 melanda kawasan itu Sabtu pagi (15/8) dan memicu tsunami di 16 lokasi.
Mengapa Ini Penting?

Gempa utama terjadi pada Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB di utara Pulau Flores. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan bahwa parameter kekuatan gempa diperbarui menjadi M7,7 dan menyebabkan dampak tsunami di wilayah sekitarnya. Gempa jenis dangkal ini bersumber dari aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dengan mekanisme sesar naik (thrust fault), pada kedalaman sekitar 15 kilometer menurut penjelasan Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, sebagaimana dikutip situs resmi bmkg.go.id.
Dari total 1.624 gempa susulan tersebut, 23 di antaranya berkekuatan di atas M5,0, dan 59 gempa dilaporkan dirasakan langsung oleh masyarakat. BMKG menyatakan tren gempa susulan belum menunjukkan peluruhan (decay) yang signifikan, sehingga potensi guncangan lanjutan masih perlu diwaspadai warga di wilayah terdampak — mengingatkan pada pola gempa susulan berkepanjangan yang juga pernah tercatat pada gempa bumi di Myanmar dan Thailand tahun lalu.
“BMKG telah mengirimkan Peringatan Dini 1 pada 2 menit 16 detik setelah gempa bumi dengan status ancaman SIAGA (0.5–3 meter) dan Waspada (<0,5 meter).”
— Wijayanto, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, 17 Agustus 2026
Peringatan dini tsunami sempat berlaku untuk sejumlah wilayah termasuk Manggarai bagian utara, Ngada bagian utara, Ende, Flores Timur, hingga Jeneponto (status Siaga), serta Bima, Dompu, dan Wajo (status Waspada), sebelum akhirnya dicabut pukul 07.30 WIB — sekitar 2 jam 31 menit setelah gempa pertama.
Reaksi dan Dampak

Hasil observasi stasiun pasang surut BMKG menunjukkan gempa ini memicu tsunami di 16 lokasi pada empat provinsi: NTT, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Ketinggian tsunami tertinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur, NTT, pukul 05.03 WIB mencapai 1,605 meter, sementara yang terendah di Bakalang, Alor, NTT, pukul 05.41 WIB hanya 0,14 meter, menurut data resmi BMKG yang dikutip Tempo.co.
Dari sisi korban, BMKG melaporkan berdasarkan pemantauan dan informasi lapangan sementara bahwa gempa ini menyebabkan 53 orang meninggal dunia dan 137 orang luka-luka, dengan kerusakan terparah di Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, hingga Sikka dan Maumere. Angka ini berbeda dengan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang mencatat 47 korban meninggal per Senin (17/8) — selisih yang lazim terjadi pada fase awal tanggap darurat karena proses verifikasi lapangan dari sumber berbeda belum sepenuhnya sinkron. Lebih dari 2.000 unit bangunan dilaporkan rusak akibat guncangan.
“BMKG telah menerjunkan tim gabungan dari pusat dan UPT untuk melakukan survei gempa bumi merusak, meliputi survei makroseismik, pengukuran mikrotremor dan MASW untuk mengetahui karakteristik serta respons tanah terhadap guncangan, monitoring gempa susulan, dan verifikasi dampak tsunami di lapangan.”
— Wijayanto, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG
Skala kerusakan bangunan dan gangguan layanan dasar ini mengingatkan pada pola pemulihan panjang yang juga terjadi usai banjir besar di Bandung yang menelan korban jiwa, di mana proses evakuasi dan perbaikan infrastruktur berjalan berminggu-minggu setelah kejadian utama.
Kronologi Peristiwa

| Waktu (WIB) | Kejadian |
|---|---|
| Sabtu, 15/8, 04.58 | Gempa utama M7,7 mengguncang utara Flores, NTT |
| Sabtu, 15/8, 05.00 | Peringatan Dini Tsunami dikirim BMKG, 2 menit 16 detik pascagempa |
| Sabtu, 15/8, 05.03 | Tsunami tertinggi tercatat di Pota, Manggarai Timur (1,605 m) |
| Sabtu, 15/8, 07.30 | Peringatan Dini Tsunami dicabut |
| Sabtu, 15/8, 14.00 | BMKG catat 235 gempa susulan |
| Senin, 17/8, 07.00 | Kepala BMKG sebut 1.598 gempa susulan tercatat |
| Senin, 17/8, 11.00 | Total gempa susulan mencapai 1.624 kali |
Apa Selanjutnya?

BMKG menyatakan akan terus memantau aktivitas gempa susulan dan memutakhirkan informasi secara berkala. Tim gabungan pusat dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG tengah melakukan survei mikrozonasi pascagempa di wilayah dengan kerusakan sedang hingga berat, sebagai dasar penyusunan rekomendasi mitigasi dan rekonstruksi yang lebih aman.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa, serta tetap mewaspadai gempa susulan yang masih berlangsung. BMKG merekomendasikan warga memantau informasi resmi melalui akun media sosial @infoBMKG, situs bmkg.go.id atau inatews.bmkg.go.id, serta aplikasi InfoBMKG atau WRS-BMKG — bukan melalui pesan berantai yang belum terverifikasi.
Di sisi lain, upaya solidaritas nasional mulai bergulir. Pola penggalangan bantuan semacam ini pernah terlihat ketika warga Jakarta mendonasikan lebih dari Rp31 miliar untuk korban bencana Sumatera, dan proses pemulihan pascabencana besar cenderung memerlukan waktu panjang — sebagaimana disoroti dalam laporan Walhi soal 50 hari banjir Sumatera yang belum pulih sepenuhnya. Pemerintah daerah dan BPBD setempat juga tengah membuka jalur evakuasi warga di area rawan longsor susulan, mengikuti prosedur serupa yang diterapkan saat evakuasi korban banjir Garut.
Artikel ini ditulis oleh Redaksi Berita caibo02.xyz, berdasarkan siaran pers resmi BMKG dan liputan media nasional terverifikasi.