
caibo02 – Bayangkan sedang duduk santai di dalam pesawat Boeing 747 pada malam hari. Lampu kabin menyala seperti biasa, sebagian penumpang mungkin sedang mencoba tidur, sementara pesawat melaju ribuan meter di atas permukaan bumi. Tidak ada badai besar yang terlihat. Tidak ada peringatan bahwa sesuatu yang berbahaya sedang menunggu di depan.
Lalu muncul cahaya aneh di luar pesawat.
Tak lama kemudian, asap atau debu mulai terasa di dalam kabin. Mesin pesawat mulai bermasalah. Satu mesin mati. Kemudian mesin lainnya ikut berhenti bekerja.
Dalam waktu singkat, sebuah Boeing 747 yang seharusnya memiliki empat mesin berubah menjadi pesawat raksasa tanpa tenaga mesin di ketinggian puluhan ribu kaki.
Kedengarannya seperti adegan film bencana penerbangan. Namun, kejadian ini benar-benar terjadi di langit Indonesia pada 24 Juni 1982. Pesawat tersebut adalah British Airways Flight 009 atau BA009, sebuah Boeing 747 yang terbang dari Kuala Lumpur menuju Perth sebagai bagian dari perjalanan panjang dari London menuju Auckland.
Penyebabnya bukan kerusakan mesin biasa, bukan kehabisan bahan bakar, dan bukan pula badai.
Pesawat itu masuk ke dalam awan abu vulkanik Gunung Galunggung di Jawa Barat.
Peristiwa ketika abu vulkanik merusak pesawat British Airways tersebut kemudian menjadi salah satu insiden paling terkenal dalam sejarah penerbangan modern. Bukan hanya karena keempat mesinnya sempat mati, tetapi juga karena kejadian tersebut membantu dunia penerbangan memahami bahwa abu gunung berapi adalah ancaman serius bagi pesawat jet.
British Airways Flight 009 Terbang Melintasi Indonesia
British Airways Flight 009 merupakan penerbangan jarak jauh yang menghubungkan London dengan Auckland, Selandia Baru, melalui beberapa kota.
Pesawat yang digunakan pada penerbangan tersebut adalah Boeing 747-200 bernama City of Edinburgh. Pesawat dengan registrasi G-BDXH itu menggunakan empat mesin Rolls-Royce RB211. Pada malam kejadian, pesawat sedang menjalani segmen penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Perth.
Perjalanan awalnya berjalan normal.
Boeing 747 tersebut berada di ketinggian sekitar 37.000 kaki ketika terbang di wilayah selatan Jakarta. Dari sudut pandang awak pesawat, tidak ada alasan kuat untuk menganggap bahwa mereka sedang menuju suatu ancaman besar.
Masalahnya, Gunung Galunggung di Jawa Barat sedang mengalami periode erupsi besar.
Smithsonian Global Volcanism Program mencatat rangkaian erupsi besar Galunggung dimulai pada April 1982. Aktivitas vulkaniknya menghasilkan material piroklastik dan abu dalam jumlah besar. Periode erupsi 1982–1983 bahkan berlangsung sekitar 21 bulan.
Pada malam 24 Juni, sebagian material letusan itu berada tepat di jalur penerbangan BA009.
Dan para pilot tidak menyadarinya.
Cahaya Aneh Mulai Terlihat di Boeing 747
Keanehan mulai muncul ketika awak melihat fenomena cahaya di sekitar pesawat.
Di sekitar kaca kokpit terlihat efek seperti percikan-percikan cahaya. Fenomena tersebut dikenal sebagai St. Elmo’s fire, yaitu pelepasan listrik yang dapat muncul ketika sebuah pesawat melewati lingkungan atmosfer dengan partikel bermuatan.
Smithsonian National Air and Space Museum menggambarkan apa yang dilihat awak sebagai sesuatu yang menyerupai jutaan percikan atau peluru cahaya di luar kokpit.
Bagi penumpang, suasananya tentu membingungkan.
Mereka berada di sebuah jumbo jet yang sedang terbang malam, sementara pemandangan aneh mulai muncul di luar jendela.
Lalu ada masalah lain.
Debu dan bau yang tidak biasa mulai masuk ke pesawat.
Pada saat itu, awak belum mengetahui bahwa Boeing 747 mereka sebenarnya sedang melaju menembus awan abu vulkanik.
Mengapa Pilot Tidak Melihat Awan Abu?
Ini adalah salah satu bagian yang membuat kisah tersebut begitu menarik.
Orang mungkin membayangkan awan abu gunung berapi sebagai gumpalan hitam besar yang mudah terlihat dari kokpit. Kenyataannya tidak sesederhana itu, terlebih pada malam hari.
Abu vulkanik dapat sulit dibedakan dari awan biasa atau bahkan tidak terlihat sama sekali dalam kondisi tertentu. Radar cuaca pesawat juga terutama dirancang untuk mendeteksi kandungan air atau presipitasi dalam awan, bukan untuk memberikan jaminan deteksi terhadap abu vulkanik kering.
Akibatnya, sebuah pesawat dapat berada sangat dekat dengan awan abu sebelum awak menyadari bahayanya.
Pada BA009, kesadaran itu datang dengan cara yang sangat dramatis.
Mesinnya mulai gagal.
Satu per Satu Mesin British Airways Mulai Mati
Mesin nomor empat menjadi salah satu yang pertama mengalami masalah serius dan kemudian berhenti menghasilkan tenaga.
Untuk sebuah Boeing 747, kehilangan satu mesin belum berarti pesawat akan jatuh. Pesawat empat mesin memang dirancang memiliki redundansi sehingga penerbangan masih dapat dilanjutkan dalam kondisi tertentu ketika satu mesin bermasalah.
Tetapi tidak lama kemudian mesin berikutnya ikut gagal.
Lalu mesin lainnya.
Hanya dalam waktu singkat, keempat mesin Boeing 747 tersebut berhenti bekerja. Smithsonian National Air and Space Museum mencatat bahwa setelah mesin nomor empat berhenti, mesin nomor dua menyusul, kemudian mesin nomor satu dan tiga.
Bayangkan berada di kokpit saat itu.
Di depan para pilot terdapat sebuah pesawat berbadan lebar dengan ratusan orang di dalamnya. Mereka berada pada malam hari di atas wilayah Indonesia. Empat mesin yang seharusnya memberikan daya dorong kini tidak lagi berfungsi.
Boeing 747 itu praktis berubah menjadi glider raksasa.
Menurut Smithsonian Global Volcanism Program, pesawat kehilangan sekitar 7,5 kilometer ketinggian sebelum mesin akhirnya dapat dinyalakan kembali.
Mengapa Abu Vulkanik Bisa Merusak Mesin Pesawat?
Di sinilah abu vulkanik memperlihatkan sisi yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar membuat pesawat menjadi kotor.
Abu gunung berapi tidak sama seperti abu lembut dari kertas atau kayu yang terbakar.
Material vulkanik terdiri atas partikel sangat kecil dari batuan, mineral, dan material kaca vulkanik. Ketika sebuah pesawat jet melaju dengan kecepatan tinggi menembus konsentrasi abu, partikel-partikel tersebut menghantam permukaan pesawat dan masuk ke dalam mesin.
Di bagian mesin yang sangat panas, material vulkanik dapat meleleh. Material tersebut kemudian dapat menempel pada komponen internal mesin dan mengganggu aliran udara serta proses pembakaran.
Inilah salah satu mekanisme utama yang membuat awan abu sangat berbahaya bagi mesin jet.
SKYbrary menjelaskan bahwa dampak abu vulkanik terhadap pesawat dapat mencakup kerusakan mesin, abrasi pada permukaan pesawat, kontaminasi sistem udara, hingga hilangnya tenaga mesin.
Pada British Airways Flight 009, efeknya terjadi dalam skala yang luar biasa.
Semua mesin kehilangan tenaga.
Kaca Kokpit Juga Terkena Dampaknya
Mesin bukan satu-satunya bagian yang bermasalah.
Partikel abu yang menghantam pesawat dengan kecepatan tinggi bertindak seperti material abrasif. Bayangkan proses sandblasting, tetapi terjadi pada pesawat yang sedang terbang ratusan kilometer per jam.
Kaca kokpit BA009 mengalami abrasi berat.
NOAA mencatat abu menggores dan membuat kaca depan pesawat berlubang-lubang kecil hingga pandangan pilot menjadi sangat buruk. Smithsonian Global Volcanism Program juga mencatat abrasi terjadi pada kaca depan dan permukaan sayap.
Situasi tersebut menciptakan kombinasi masalah yang hampir sulit dipercaya.
Mesin mati, pesawat kehilangan ketinggian, abu masuk ke lingkungan pesawat, dan kaca kokpit mengalami kerusakan.
Namun, Boeing 747 tidak langsung jatuh ketika mesin berhenti.
Boeing 747 Berubah Menjadi Glider di Langit Indonesia
Pesawat komersial tetap memiliki kemampuan meluncur meskipun seluruh mesin kehilangan tenaga.
Selama pesawat masih mempunyai kecepatan dan ketinggian, sayap tetap dapat menghasilkan gaya angkat. Pilot kemudian dapat mengubah ketinggian menjadi jarak horizontal sambil mencoba mencari tempat aman untuk mendarat atau menyalakan kembali mesin.
BA009 mulai turun.
Di dalam kokpit, awak terus melakukan prosedur restart mesin.
Situasinya semakin serius karena mereka harus mempertimbangkan kemungkinan bahwa mesin tidak dapat dinyalakan kembali sebelum pesawat kehilangan terlalu banyak ketinggian.
Jakarta menjadi pilihan penting.
Jika mesin berhasil dinyalakan, mereka akan mencoba membawa pesawat menuju bandara di Jakarta. Jika tidak, pilihan yang tersedia akan menjadi jauh lebih buruk.
Di tengah situasi tersebut, Captain Eric Moody kemudian menyampaikan pengumuman kepada penumpang yang menjadi salah satu kisah paling terkenal dalam sejarah penerbangan.
Alih-alih membuat pengumuman panjang dan dramatis, ia secara tenang memberi tahu bahwa keempat mesin telah berhenti dan kru sedang berusaha mengendalikan keadaan. Smithsonian National Air and Space Museum mendokumentasikan pengumuman tersebut dalam kisah BA009.
Ketenangan semacam itu terasa kontras dengan kondisi pesawat.
Sebab di luar kabin, Boeing 747 terus turun.
Kemudian Sesuatu yang Mengejutkan Terjadi
Setelah beberapa kali upaya restart, pesawat akhirnya turun keluar dari bagian awan abu yang paling berbahaya.
Kondisi di dalam mesin juga mulai berubah.
Ketika mesin berhenti dan suhunya menurun, material vulkanik yang sebelumnya meleleh dan menempel pada bagian internal dapat mendingin dan terlepas. Setelah pesawat keluar dari konsentrasi abu, aliran udara yang lebih bersih kembali masuk.
Kemudian mesin berhasil dinyalakan.
Bagi siapa pun yang berada di pesawat itu, suara mesin yang kembali hidup mungkin menjadi salah satu suara paling melegakan yang pernah mereka dengar.
Smithsonian mencatat pesawat telah kehilangan sekitar 7,5 kilometer ketinggian sebelum mesin berhasil kembali beroperasi.
Namun masalah belum sepenuhnya selesai.
Salah satu mesin kembali menunjukkan gangguan sehingga akhirnya dimatikan. BA009 kemudian melanjutkan perjalanan menuju Jakarta menggunakan tiga mesin.
Dan masih ada satu masalah besar lainnya.
Kaca depan kokpit telah mengalami abrasi berat akibat abu.
Artinya, ketika mendekati landasan, pandangan ke luar pesawat tidak berada dalam kondisi normal.
British Airways Flight 009 Akhirnya Mendarat di Jakarta
Setelah melewati rangkaian kejadian yang rasanya hampir mustahil, Boeing 747 tersebut berhasil mencapai Jakarta.
Pesawat kemudian melakukan pendaratan darurat di Bandara Halim Perdanakusuma.
Tidak terjadi kecelakaan fatal.
SKYbrary mencatat tidak ada korban luka maupun korban meninggal di antara penghuni pesawat, meskipun pesawat mengalami kerusakan besar.
Sebuah Boeing 747 baru saja kehilangan tenaga pada keempat mesinnya di ketinggian sekitar 37.000 kaki, turun ribuan meter tanpa daya mesin, mengalami abrasi akibat abu vulkanik, lalu berhasil menyalakan kembali mesinnya dan mendarat.
Semua itu bermula dari sesuatu yang mungkin dari kejauhan hanya terlihat seperti debu.
Gunung Galunggung Sedang Mengalami Erupsi Besar
Untuk memahami mengapa awan abu bisa mencapai jalur penerbangan, kita perlu kembali melihat kondisi Gunung Galunggung pada 1982.
Gunung yang berada di Jawa Barat tersebut mulai mengalami rangkaian erupsi besar pada April tahun itu.
Smithsonian Global Volcanism Program mencatat erupsi 1982 menyebabkan kerusakan luas. Puluhan ribu orang harus mengungsi, sementara aliran piroklastik dan hujan abu memberikan dampak serius pada wilayah sekitar gunung.
Pada periode 24–27 Juni, ledakan vulkanik menghasilkan abu dan lapili yang jatuh di sejumlah desa sekitar Galunggung.
Awan erupsi kemudian terbawa angin.
BA009 berada sekitar 150 kilometer dari Galunggung ketika pesawat bertemu awan tersebut menurut catatan Smithsonian. Pesawat saat itu terbang pada ketinggian sekitar 11 kilometer.
Jarak itu memberikan pelajaran penting.
Pesawat tidak harus terbang tepat di atas kawah gunung berapi untuk berada dalam bahaya.
Abu dapat bergerak jauh mengikuti angin atmosfer dan melintasi jalur penerbangan yang letaknya ratusan kilometer dari sumber erupsi.
BA009 Bukan Satu-satunya Pesawat yang Terancam Galunggung
Kejadian British Airways membuat risiko abu vulkanik mendapatkan perhatian besar, tetapi aktivitas Galunggung belum selesai.
Gunung tersebut terus aktif dalam periode 1982–1983. Catatan Smithsonian menunjukkan rangkaian aktivitas berlangsung hingga awal 1984.
Insiden BA009 menjadi contoh yang sangat jelas bahwa erupsi gunung berapi bukan hanya masalah bagi masyarakat yang tinggal di lereng gunung.
Dampaknya dapat menjalar ke dunia penerbangan internasional.
Sebuah gunung di Jawa Barat dapat menghasilkan awan abu yang mengancam pesawat berbadan lebar yang sedang melakukan perjalanan internasional antara Asia dan Australia.
Dan pada 1982, sistem pemantauan abu vulkanik untuk penerbangan belum berkembang seperti sekarang.
Dari Insiden British Airways Menuju Sistem Peringatan Abu Vulkanik
Ada alasan mengapa kisah BA009 terus dibicarakan lebih dari empat dekade setelah kejadian.
Peristiwa ini membantu dunia penerbangan memahami bahwa abu vulkanik memerlukan sistem pemantauan dan peringatan khusus.
Kini terdapat jaringan Volcanic Ash Advisory Centres atau VAAC yang memberikan informasi mengenai lokasi dan pergerakan awan abu kepada komunitas penerbangan.
SKYbrary menyebut International Civil Aviation Organization mengimplementasikan sistem sembilan VAAC yang bertugas memberikan informasi mengenai lokasi dan ketinggian awan abu vulkanik melalui berbagai informasi penerbangan.
Satelit juga memainkan peran penting.
Teknologi pengamatan bumi memungkinkan awan hasil erupsi dipantau dari angkasa, sementara data meteorologi digunakan untuk memperkirakan bagaimana material vulkanik akan bergerak mengikuti angin.
Prinsip keselamatannya sebenarnya sederhana: jangan mencoba membuktikan apakah pesawat modern mampu melewati abu vulkanik.
Sebisa mungkin, hindari awannya.
Mengapa Pesawat Modern Tetap Menghindari Abu Vulkanik?
Teknologi pesawat telah berkembang jauh sejak 1982.
Mesin jet semakin efisien, sistem navigasi semakin canggih, satelit semakin baik, dan informasi mengenai aktivitas gunung api dapat tersebar jauh lebih cepat.
Namun hukum fisika tidak berubah.
Partikel batuan dan kaca vulkanik tetap abrasif. Mesin jet tetap bekerja pada temperatur sangat tinggi. Material vulkanik yang masuk ke bagian panas mesin tetap dapat menimbulkan masalah serius.
Karena itu, ketika gunung api meletus dan menghasilkan abu pada ketinggian penerbangan, maskapai dapat mengubah rute, menunda penerbangan, atau membatalkan penerbangan apabila risikonya dianggap terlalu besar.
Bagi penumpang, keputusan tersebut terkadang terasa merepotkan.
Penerbangan tertunda beberapa jam mungkin membuat jadwal berantakan. Pengalihan rute dapat membuat perjalanan lebih panjang.
Namun kisah BA009 menunjukkan alasan di balik kehati-hatian itu.
Tidak ada maskapai yang ingin mengulangi malam ketika sebuah jumbo jet berubah menjadi glider karena masuk ke awan abu yang tidak terlihat.
Ketika Debu dari Gunung Bisa Mengalahkan Empat Mesin Jet
Ada sesuatu yang menarik dari kisah abu vulkanik merusak pesawat British Airways.
Boeing 747 pada zamannya merupakan simbol teknologi penerbangan modern. Pesawat itu besar, memiliki empat mesin, mampu melintasi benua dan membawa ratusan orang dalam satu penerbangan.
Tetapi di langit Indonesia pada Juni 1982, teknologi tersebut berhadapan dengan partikel-partikel kecil yang dikeluarkan sebuah gunung berapi.
Hasilnya mengejutkan.
Empat mesin kehilangan tenaga.
Kaca kokpit rusak akibat abrasi.
Pesawat kehilangan ribuan meter ketinggian.
Namun cerita BA009 tidak berakhir sebagai tragedi. Awak berhasil menjaga pesawat tetap terkontrol, mesin akhirnya dapat dinyalakan kembali setelah pesawat keluar dari awan abu, dan Boeing 747 itu mendarat dengan selamat di Jakarta.
Tidak ada korban jiwa.
Justru dari insiden tersebut, dunia mendapatkan pelajaran yang jauh lebih besar tentang hubungan antara aktivitas gunung berapi dan keselamatan penerbangan.
Hari ini, ketika sebuah maskapai memilih menghindari wilayah yang terkena abu vulkanik, keputusan itu mungkin terlihat seperti prosedur keselamatan biasa.
Namun di balik prosedur tersebut ada sejarah panjang.
Salah satu ceritanya terjadi di atas Indonesia pada 24 Juni 1982, ketika sebuah Boeing 747 milik British Airways masuk ke awan abu Gunung Galunggung dan mendadak kehilangan seluruh tenaga mesinnya.
Malam itu membuktikan satu hal yang sebelumnya belum sepenuhnya dipahami dunia penerbangan: awan yang hampir tidak terlihat bisa menjadi salah satu tempat paling berbahaya bagi sebuah pesawat jet.
Referensi
Smithsonian Institution – Global Volcanism Program, “Galunggung”: https://volcano.si.edu/volcano.cfm?vn=263140
Smithsonian Institution – Global Volcanism Program, “Volcanic Activity Report on Galunggung, August 1982”: https://volcano.si.edu/showreport.cfm?doi=10.5479%2Fsi.GVP.SEAN198208-263140
NOAA National Centers for Environmental Information, “Galunggung – Story”: https://www.ngdc.noaa.gov/hazard/stratoguide/galunstory.html
Smithsonian National Air and Space Museum, “How Active Volcanoes Can Put Airplanes in Danger”: https://airandspace.si.edu/air-and-space-quarterly/issue-13/volcano-hazards
SKYbrary Aviation Safety, “B742, en-route, south southeast of Jakarta Indonesia, 1982”: https://skybrary.aero/index.php/accidents-and-incidents/b742-en-route-south-southeast-jakarta-indonesia-1982
SKYbrary Aviation Safety, “Volcanic Ash”: https://skybrary.aero/index.php/articles/volcanic-ash







