
caibo02 – Bayangkan sebuah perusahaan teknologi diminta mengeluarkan uang yang nilainya lebih besar daripada APBD tahunan banyak provinsi di Indonesia.
Bukan untuk membeli perusahaan lain.
Bukan membangun pusat data AI.
Bukan membeli chip Nvidia.
Tetapi untuk mengakhiri rangkaian gugatan hukum.
Itulah yang sekarang dihadapi Meta Platforms, perusahaan induk Facebook dan Instagram.
Pada akhir Agustus 2026, Meta mencapai salah satu penyelesaian hukum terbesar dalam sejarah industri teknologi Amerika Serikat. Perusahaan yang dipimpin Mark Zuckerberg tersebut setuju membayar hingga sekitar US$17 miliar sampai US$18 miliar, atau lebih dari Rp300 triliun jika dikonversikan menggunakan kurs rupiah saat ini.
Uangnya bukan sekadar “denda Facebook”.
Kasusnya jauh lebih serius.
Puluhan negara bagian Amerika Serikat menuduh Meta sengaja merancang Instagram dan Facebook dengan berbagai fitur yang mendorong anak serta remaja terus menggunakan media sosial, bahkan ketika perusahaan mengetahui adanya risiko terhadap kesehatan mental mereka.
Meta juga dituding menyesatkan masyarakat mengenai keamanan produknya serta mengumpulkan informasi pribadi pengguna berusia di bawah 13 tahun tanpa izin orang tua dalam sejumlah kasus.
Setelah pertarungan hukum selama bertahun-tahun, Meta akhirnya memilih jalan damai.
Bayar.
Ubah produknya.
Dan hentikan sebagian besar gugatan negara bagian sebelum proses pengadilan berkembang semakin panjang.
Menurut Associated Press, kesepakatan tersebut melibatkan hampir seluruh negara bagian Amerika Serikat dan dapat mencapai sekitar US$18 miliar. Pembayaran dilakukan bertahap selama sekitar sepuluh tahun.
Namun ada satu bagian yang jauh lebih menarik daripada nominal uangnya.
Meta sekarang juga harus mengubah cara Instagram dan Facebook digunakan oleh anak-anak.

Meta Bayar Uang Damai Setelah Digugat Puluhan Negara Bagian AS
Kasus ini bukan muncul kemarin sore.
Akar sengketanya sudah berkembang selama beberapa tahun.
Pada 2023, puluhan jaksa agung negara bagian Amerika Serikat mulai menggugat Meta. Mereka menuduh perusahaan tersebut mengetahui bahwa sejumlah desain Instagram dapat mendorong penggunaan kompulsif di kalangan anak dan remaja.
Gugatan kemudian berkembang menjadi salah satu pertarungan hukum terbesar antara regulator negara bagian dan perusahaan teknologi Amerika.
Pada Agustus 2026, persidangan federal penting akhirnya dimulai di Oakland, California.
California, Colorado, Kentucky dan New Jersey termasuk negara bagian yang membawa perkara tersebut ke persidangan.
Nama Mark Zuckerberg bahkan diperkirakan akan muncul sebagai salah satu saksi penting.
Namun sebelum drama ruang sidang berkembang lebih jauh, Meta dan para jaksa agung negara bagian mencapai kesepakatan.
Menurut Jaksa Agung California Rob Bonta, penyelesaian tersebut dirancang bukan hanya menghasilkan pembayaran kompensasi, tetapi juga memaksa perubahan besar terhadap Instagram dan Facebook.
Inilah kenapa menyebutnya sekadar “Meta kena denda” sebenarnya kurang tepat.
Secara hukum, bentuknya adalah settlement atau penyelesaian gugatan.
Meta membayar sejumlah uang dan menyetujui perubahan tertentu sebagai bagian dari kesepakatan, sementara sebagian gugatan dihentikan.
Nilainya US$17 Miliar atau US$18 Miliar?
Kalau mengikuti pemberitaan mengenai kasus ini, pembaca mungkin menemukan angka berbeda.
Ada yang menulis US$16,68 miliar.
Ada US$17,1 miliar.
Ada pula US$18 miliar.
Jadi mana yang benar?
Angka tersebut berasal dari cara penghitungan settlement yang berbeda.
Reuters, berdasarkan dokumen pengadilan, melaporkan pembayaran maksimum sekitar US$16,68 miliar dalam salah satu struktur penyelesaian perkara.
Sementara berbagai kantor jaksa agung negara bagian menyebut kesepakatan multistate bernilai hingga sekitar US$17,1 miliar. Pemerintah Maine, Arizona, Washington dan sejumlah negara bagian lainnya menggunakan angka tersebut dalam pernyataan resmi mereka.
Associated Press kemudian menggunakan angka hingga US$18 miliar ketika memperhitungkan keseluruhan struktur penyelesaian dan pembayaran yang terkait dengan perkara tersebut.
Jadi untuk pembaca Indonesia, formulasi paling aman adalah:
Meta menghadapi settlement bernilai sekitar US$17 miliar dan dapat mencapai kurang lebih US$18 miliar.
Kalau dikonversikan ke rupiah, nilainya berada di kisaran lebih dari Rp300 triliun.
Jumlah yang jelas bukan uang receh, bahkan untuk perusahaan sekelas Meta.
Kenapa Meta Sampai Rela Bayar Sebesar Itu?
Pertanyaan berikutnya cukup sederhana.
Kenapa tidak dilawan saja sampai selesai?
Meta tentu mempunyai tim pengacara kelas dunia.
Perusahaan juga mempunyai sumber daya finansial yang sangat besar.
Namun pengadilan selalu membawa risiko.
Kalau perkara terus berjalan dan Meta kalah, perusahaan tidak hanya menghadapi potensi pembayaran yang lebih besar.
Ada pula risiko munculnya bukti internal, kesaksian eksekutif, dokumen perusahaan dan putusan pengadilan yang dapat menjadi dasar gugatan lain.
Belum lagi reputasi.
Kasus ini berkaitan dengan anak-anak.
Secara politik dan emosional, isu tersebut sangat sensitif.
Perusahaan teknologi bisa berdebat soal algoritma sampai ratusan halaman di pengadilan.
Tetapi kalimat “Instagram membuat anak kecanduan” jauh lebih mudah dipahami publik.
Dalam situasi seperti itu, settlement memberikan kepastian.
Meta tahu berapa biaya yang harus dibayar.
Negara bagian mendapatkan uang dan perubahan kebijakan.
Sementara perusahaan mengurangi risiko menghadapi puluhan persidangan berbeda dalam beberapa tahun berikutnya.
Tuduhan Paling Berat: Instagram Sengaja Dibuat Bikin Anak Ketagihan
Inti gugatan bukan karena Instagram sekadar populer.
Jaksa agung berbagai negara bagian menuduh Meta secara sadar menggunakan desain produk yang membuat remaja sulit berhenti.
Pikirkan cara kita menggunakan Instagram.
Scroll.
Lihat video.
Geser lagi.
Ada Reel berikutnya.
Ada notifikasi.
Ada like.
Ada komentar.
Ada konten rekomendasi.
Tidak ada titik natural yang mengatakan:
“Sudah selesai.”
Berbeda dengan membaca koran.
Halaman terakhir habis.
Selesai.
Media sosial modern menggunakan infinite scroll.
Selama pengguna terus menggeser layar, konten baru terus muncul.
Dan setiap konten baru menawarkan kemungkinan hadiah kecil bagi otak.
Video lucu.
Pesan teman.
Like.
Konten menarik.
Atau sesuatu yang mengejutkan.
Jaksa agung AS berpendapat berbagai mekanisme tersebut sengaja didesain untuk meningkatkan engagement, termasuk terhadap pengguna usia muda yang dinilai lebih rentan.
Gugatan menyebut Meta mengetahui potensi efek negatif tersebut tetapi tetap menjalankan sistem karena semakin lama pengguna berada di aplikasi, semakin banyak iklan yang dapat diperlihatkan.
Bagaimana Anak Menghasilkan Uang untuk Instagram?
Anak mungkin tidak membeli produk langsung dari Meta.
Namun perhatian mereka mempunyai nilai.
Model bisnis Facebook dan Instagram sebagian besar bergantung pada iklan.
Semakin sering seseorang membuka aplikasi, semakin banyak inventory iklan yang tersedia.
Semakin lama pengguna berada di platform, semakin banyak data perilaku yang dihasilkan.
Data itu membantu Meta memahami apa yang menarik perhatian pengguna.
Kemudian algoritma memperlihatkan konten yang kemungkinan membuat mereka tetap berada di aplikasi.
Siklusnya sederhana.
Perhatian menghasilkan data.
Data membantu rekomendasi.
Rekomendasi meningkatkan engagement.
Engagement menghasilkan lebih banyak peluang iklan.
Secara bisnis, model tersebut luar biasa efektif.
Namun ketika pengguna yang terlibat adalah anak usia 12, 13 atau 14 tahun, regulator mulai bertanya:
Sampai batas mana perusahaan boleh mengoptimalkan perhatian?
Instagram dan Facebook Sekarang Harus Punya Batas Waktu
Settlement tersebut membawa perubahan besar.
Salah satunya adalah pembatasan waktu penggunaan.
Untuk akun anak dan remaja tertentu, Meta harus menerapkan batas penggunaan harian sekitar dua jam secara default.
Anak tidak dapat begitu saja mematikannya.
Untuk mengubah batas tersebut, diperlukan izin orang tua.
Artinya, setelah menggunakan Instagram atau Facebook sampai batas tertentu, pengalaman aplikasi harus mulai berubah.
Tujuannya jelas.
Menghentikan pola scroll tanpa akhir.
Selain itu, Meta harus menyediakan mekanisme jeda dan berbagai kontrol tambahan untuk orang tua.
Ini adalah perubahan yang cukup fundamental.
Karena selama bertahun-tahun perusahaan media sosial biasanya mempunyai insentif untuk membuat pengguna tinggal selama mungkin.
Sekarang regulator justru meminta perusahaan membatasi waktu pengguna tertentu.
Notifikasi Saat Jam Sekolah Akan Dibatasi
Settlement juga menyasar salah satu senjata paling efektif aplikasi modern:
push notification.
Coba bayangkan seorang pelajar sedang belajar.
HP berbunyi.
“Teman Anda baru mengunggah Reel.”
Beberapa menit kemudian:
“Seseorang menyukai postingan Anda.”
Kemudian:
“Akun yang Anda ikuti melakukan update.”
Notifikasi terlihat kecil.
Tetapi setiap notifikasi adalah undangan untuk kembali membuka aplikasi.
Dalam settlement tersebut, Meta harus mengurangi atau menonaktifkan push notification untuk pengguna muda selama periode sekolah tertentu pada hari kerja.
Logikanya sederhana.
Kalau aplikasi tidak terus memanggil pengguna, kemungkinan pengguna membuka aplikasi secara impulsif dapat berkurang.
Like Bisa Ikut Dibatasi
Ada pula bagian yang menyentuh budaya media sosial secara langsung.
Jumlah like.
Bagi orang dewasa, like mungkin terlihat seperti angka kecil di bawah foto.
Untuk remaja, angka tersebut dapat menjadi ukuran popularitas.
Foto A dapat 2.000 like.
Foto B hanya 23.
Kemudian muncul pembandingan sosial.
Kenapa dia lebih populer?
Kenapa postingan saya sedikit yang suka?
Apakah saya tidak menarik?
Settlement mengharuskan Meta membatasi sejumlah fitur social comparison untuk anak dan remaja, termasuk aspek yang berkaitan dengan jumlah like.
Perubahan ini menarik karena menyentuh desain dasar Instagram.
Selama bertahun-tahun like merupakan mata uang sosial platform tersebut.
Sekarang, setidaknya untuk pengguna muda, regulator ingin nilainya dikurangi.
Filter Kecantikan Ekstrem Juga Disorot
Ada satu bagian lain yang jarang dibicarakan dibanding scroll dan like.
Filter.
Filter wajah sebenarnya bisa menyenangkan.
Hidung kelinci.
Efek lucu.
Karakter kartun.
Masalah muncul ketika filter mengubah bentuk wajah secara ekstrem.
Rahang lebih kecil.
Hidung lebih mancung.
Kulit sempurna.
Mata lebih besar.
Bibir lebih tebal.
Bagi remaja yang sedang membangun rasa percaya diri, standar visual seperti ini berpotensi menciptakan masalah citra tubuh.
Dalam rangkaian reformasi yang disepakati, Meta harus membatasi efek tertentu yang berkaitan dengan operasi kosmetik dan perubahan penampilan ekstrem bagi pengguna anak.
Sekali lagi, isu ini bukan sekadar teknologi.
Ini menyentuh psikologi.
Meta Juga Harus Lebih Serius Memastikan Umur Pengguna
Semua aturan untuk anak tidak berarti banyak kalau seorang anak berusia 12 tahun cukup mengetik tahun lahir palsu.
Itulah sebabnya settlement juga meminta Meta memperkuat age assurance.
Istilah ini bukan sekadar meminta pengguna memasukkan tanggal lahir.
Age assurance berarti perusahaan harus mempunyai metode lebih kuat untuk memperkirakan atau memverifikasi apakah seseorang memang termasuk pengguna di bawah umur.
Masalahnya tentu tidak sederhana.
Kalau verifikasi terlalu longgar, anak mudah menyamar sebagai orang dewasa.
Kalau terlalu ketat, privasi pengguna bisa terganggu.
Apakah setiap orang harus menyerahkan KTP?
Scan wajah?
Video selfie?
Dokumen sekolah?
Inilah salah satu tantangan terbesar implementasi settlement.
Regulator ingin anak terlindungi.
Tetapi sistem verifikasi umur sendiri tidak boleh berubah menjadi mesin pengumpulan data baru.
Meta Tidak Mengaku Bersalah
Ini detail hukum yang juga penting.
Settlement tidak sama dengan pengakuan kesalahan.
Meta tidak mengatakan:
“Ya, seluruh tuduhan benar.”
Perusahaan tetap mempertahankan posisi bahwa mereka sudah berinvestasi besar dalam perlindungan remaja dan orang tua.
Meta mengatakan keselamatan pengguna muda merupakan prioritas dan menyatakan penyelesaian tersebut menjadi kesempatan untuk membangun standar industri yang lebih luas.
Ini formula yang cukup umum dalam settlement perusahaan.
Bayar.
Sepakati perubahan.
Tapi jangan mengakui seluruh tuduhan.
Dari sisi hukum, langkah tersebut penting karena pengakuan eksplisit dapat digunakan dalam berbagai gugatan lain.
Meta Bahkan Menantang TikTok dan YouTube
Ada plot twist menarik.
Meta tidak ingin menjadi satu-satunya platform yang harus menjalani aturan ketat.
Perusahaan mendorong TikTok dan YouTube mengikuti standar yang sama.
Bahkan sekitar 30 persen dari nilai settlement, atau kurang lebih US$5,3 miliar, berkaitan dengan kondisi tertentu apabila TikTok dan YouTube juga melakukan reformasi keselamatan serupa serta memenuhi mekanisme pembayaran tertentu.
Strateginya mudah dipahami.
Kalau Instagram membatasi remaja dua jam sehari tetapi TikTok bebas tanpa batas, apa yang terjadi?
Remaja mungkin cukup pindah aplikasi.
Meta kehilangan engagement.
Masalah kesehatan mental belum tentu selesai.
Karena itu Meta ingin aturan yang seragam.
Kalau semua platform mempunyai batas serupa, tidak ada satu perusahaan yang merasa mendapat kerugian kompetitif lebih besar.
Hampir Seluruh Negara Bagian AS Ikut
Settlement ini sangat besar juga karena skalanya.
Kesepakatan mencakup 48 negara bagian, Washington D.C. serta sejumlah wilayah Amerika Serikat.
Hanya beberapa negara bagian yang tidak masuk dalam struktur utama settlement tersebut.
New Mexico misalnya sudah menjalani jalur hukum tersendiri dan memperoleh putusan sebelumnya.
Florida memilih tidak bergabung karena jaksa agung negara bagian tersebut menilai ketentuan settlement masih kurang keras terhadap Meta.
Fakta bahwa jaksa agung dari berbagai negara bagian dan latar belakang politik bisa bekerja bersama menunjukkan bagaimana isu perlindungan anak di media sosial telah melampaui garis partisan.
Demokrat dan Republik mungkin bertengkar soal banyak hal.
Tetapi ketika berbicara tentang perusahaan teknologi dan anak-anak, mereka menemukan musuh yang sama.
California Dapat Bagian Paling Besar
Pembayaran dilakukan selama sekitar sepuluh tahun.
California diperkirakan memperoleh setidaknya sekitar US$1,5 miliar, menjadi salah satu penerima terbesar.
Negara bagian lain akan menerima puluhan hingga ratusan juta dolar sesuai mekanisme yang disepakati.
Dana tersebut diharapkan digunakan untuk berbagai program yang berkaitan dengan kesehatan mental anak, literasi digital, aktivitas remaja dan upaya mitigasi dampak media sosial.
Misalnya Pennsylvania memperkirakan akan menerima lebih dari US$500 juta dalam skema settlement tersebut.
Iowa mendapatkan jaminan pembayaran lebih dari US$126 juta selama sepuluh tahun.
Sementara Delaware memperoleh puluhan juta dolar dan menyebut sebagian pembayaran juga mencakup penyelesaian terkait skandal Cambridge Analytica.
Cambridge Analytica Ikut Masuk Cerita
Nama Cambridge Analytica mungkin terasa seperti berita zaman dahulu.
Kasusnya meledak pada 2018.
Perusahaan konsultan politik tersebut mendapatkan akses terhadap data puluhan juta pengguna Facebook yang kemudian menjadi bagian dari kontroversi mengenai kampanye politik dan privasi.
Ternyata sebagian klaim yang berkaitan dengan sharing data pengguna Facebook ke pihak ketiga juga ikut diselesaikan dalam rangkaian settlement terbaru.
Minnesota, misalnya, menyebut akan menerima tambahan sekitar US$8,5 juta terkait klaim tersebut.
Ini memperlihatkan betapa panjangnya daftar masalah hukum Meta.
Kasus satu belum benar-benar hilang dari sejarah.
Kasus baru datang.
Apakah Rp300 Triliun Akan Membuat Meta Bangkrut?
Tidak.
Nilainya memang fantastis.
Tetapi Meta juga perusahaan yang sangat besar.
Associated Press mencatat pendapatan Meta pada 2025 mencapai sekitar US$201 miliar.
Settlement US$18 miliar berarti kurang dari sepersepuluh pendapatan tahunan tersebut dan pembayarannya juga dilakukan bertahap selama sekitar satu dekade.
Bahkan pada hari settlement diumumkan, saham Meta tidak ambruk.
Saham perusahaan justru menutup perdagangan dengan kenaikan sekitar 1 persen, meskipun sempat bergerak lebih tinggi selama sesi.
Pasar seakan mengatakan:
“Oke, mahal. Tapi sekarang setidaknya kita tahu berapa biayanya.”
Bagi investor, ketidakpastian hukum sering lebih menakutkan dibanding sebuah angka besar yang sudah jelas.
Ancaman Sebenarnya Bukan Uangnya, tetapi Perubahan Model Bisnis
Inilah bagian paling menarik.
US$18 miliar memang terlihat besar.
Tetapi Meta bisa menghasilkan uang kembali.
Yang lebih berbahaya adalah jika regulator berhasil mengubah mekanisme yang selama ini membuat bisnis media sosial begitu profitable.
Time limit mengurangi waktu penggunaan.
Notifikasi berkurang dapat mengurangi engagement.
Kontrol orang tua bisa mengurangi konsumsi konten.
Pembatasan algoritma dapat memengaruhi jumlah iklan yang dilihat.
Kalau aturan seperti ini kemudian diterapkan kepada semua pengguna muda secara global, efek ekonominya bisa jauh lebih besar daripada nilai settlement.
Belum lagi kalau negara lain ikut meniru.
Uni Eropa terkenal agresif mengatur Big Tech.
Australia punya kebijakan ketat terkait anak dan media sosial.
Inggris mempunyai Online Safety Act.
Kalau kasus AS menjadi preseden, regulator negara lain dapat berkata:
“Kalau Meta bisa melakukan ini di Amerika, kenapa tidak di sini?”
Apakah Instagram Sekarang Akan Aman untuk Anak?
Belum tentu.
Settlement merupakan langkah besar.
Tetapi bukan tombol ajaib.
Sejumlah aktivis keselamatan anak bahkan masih mengkritik kesepakatan tersebut karena dianggap belum menyentuh seluruh desain algoritma Meta secara mendalam.
Mantan pegawai Meta Arturo Béjar, misalnya, memperingatkan bahwa settlement tidak boleh dianggap sebagai tanda bahwa Instagram sekarang otomatis aman untuk anak.
Masalah media sosial juga tidak berasal dari satu fitur.
Bukan hanya like.
Bukan hanya scroll.
Bukan hanya notifikasi.
Ada bullying.
Body image.
Konten ekstrem.
Predator seksual.
Scam.
Perdagangan narkoba.
Algoritma rekomendasi.
Tekanan sosial.
Semua berinteraksi satu sama lain.
Mengubah satu tombol tidak otomatis menyelesaikan semuanya.
Pemerintah AS Sekarang Memaksa Silicon Valley Mengakui Satu Hal
Selama bertahun-tahun, industri teknologi memakai satu filosofi sederhana.
Bangun produk.
Cari pengguna.
Tumbuh secepat mungkin.
Urus dampaknya nanti.
Model tersebut menghasilkan perusahaan raksasa.
Facebook.
Instagram.
YouTube.
TikTok.
Twitter.
Namun setelah miliaran orang hidup di dalam platform digital tersebut setiap hari, regulator mulai melihat produk teknologi bukan lagi sebagai mainan internet.
Produk itu memengaruhi kesehatan.
Politik.
Anak.
Kehidupan sosial.
Karena itu perusahaan tidak lagi bisa selalu mengatakan:
“Kami cuma platform.”
Settlement Meta memperlihatkan perubahan era.
Kalau sebuah desain digital dianggap menghasilkan dampak fisik atau psikologis nyata, regulator bisa meminta perusahaan membayar.
Dan lebih penting lagi, memaksa perusahaan mengubah produknya.
Uang Damai Meta Mungkin Baru Awal
Meta berhasil mengakhiri sebagian besar gugatan negara bagian melalui settlement tersebut.
Tetapi persoalan hukumnya belum selesai.
Perusahaan masih menghadapi berbagai gugatan dari individu, keluarga, distrik sekolah dan pihak lain di Amerika Serikat.
TikTok, YouTube dan Snapchat juga menghadapi perkara serupa mengenai dampak media sosial terhadap pengguna muda.
Artinya, apa yang terjadi pada Meta bisa menjadi preview untuk seluruh industri.
Selama dua dekade pertama media sosial, pertanyaan utama adalah:
Berapa banyak pengguna?
Berapa engagement?
Berapa lama mereka scroll?
Sekarang pertanyaan barunya mulai muncul:
Berapa banyak penggunaan yang terlalu banyak?
Dan siapa yang bertanggung jawab ketika desain aplikasi membuat anak tidak bisa berhenti?
Meta Bayar Mahal, tetapi Taruhan Terbesarnya Ada di Masa Depan Instagram
Settlement hingga sekitar US$18 miliar jelas merupakan pukulan finansial.
Tapi Meta masih mampu membayarnya.
Perusahaan mempunyai Facebook.
Instagram.
WhatsApp.
Threads.
Bisnis iklan raksasa.
Dan sekarang investasi besar dalam AI.
Yang menentukan dampak sebenarnya justru bukan cek settlement.
Yang menentukan adalah apakah kesepakatan ini mengubah cara Meta menghasilkan uang dalam jangka panjang.
Kalau aturan keselamatan anak menjadi standar industri global, social media generasi berikutnya mungkin terlihat sangat berbeda dibanding Instagram yang kita kenal sekarang.
Tidak ada notifikasi terus-menerus ketika sekolah.
Scroll punya batas.
Orang tua mendapatkan kontrol lebih besar.
Jumlah like tidak terlalu ditonjolkan.
Filter ekstrem berkurang.
Algoritma punya lebih banyak pagar.
Bagi anak, mungkin itu berita bagus.
Bagi Meta, berarti ada satu perubahan besar dalam filosofi bisnis.
Dulu pertanyaannya adalah:
“Bagaimana membuat pengguna tinggal lebih lama?”
Sekarang regulator memaksa Meta bertanya:
“Pada titik mana pengguna seharusnya berhenti?”
Ironis memang.
Perusahaan teknologi menghabiskan miliaran dolar selama bertahun-tahun untuk membuat manusia tidak bisa lepas dari layar.
Sekarang mereka mengeluarkan miliaran dolar lagi karena dianggap terlalu berhasil melakukannya.
Dan cek bernilai lebih dari Rp300 triliun itu mungkin menjadi pengingat paling mahal bahwa di Silicon Valley, perhatian manusia akhirnya tidak bisa diperlakukan sebagai sumber daya tanpa batas.
Referensi
Associated Press – “Meta reaches landmark $18 billion settlement with states in trial over teen social media addiction”, 26 Agustus 2026. Membahas settlement hingga US$18 miliar, pembatasan waktu penggunaan, notifikasi, age assurance dan pembayaran selama sepuluh tahun.
Baca di AP News
California Department of Justice – “Attorney General Bonta Secures Transformative $17 Billion Settlement with Meta”, 25 Agustus 2026. Pernyataan resmi mengenai settlement multistate dan perubahan yang harus dilakukan Facebook serta Instagram.
California Department of Justice
Reuters – “Meta reaches settlement over social media case”, 26 Agustus 2026. Reuters berdasarkan dokumen pengadilan melaporkan pembayaran maksimum sekitar US$16,68 miliar dalam struktur settlement tertentu.
Laporan Reuters via Investing.com
Office of the Maine Attorney General – “Largest Big Tech Settlement in History”, 26 Agustus 2026. Pemerintah negara bagian menyebut settlement multistate mencapai US$17,1 miliar.
Maine Attorney General
Washington State Attorney General – Meta to Pay Up to $17 Billion, 26 Agustus 2026. Memuat tuduhan mengenai desain adiktif, data anak dan misleading claims tentang keamanan platform.
Washington Attorney General
Pennsylvania Office of Attorney General – Historic Meta Settlement, 26 Agustus 2026. Pennsylvania memperkirakan penerimaan lebih dari US$500 juta dari settlement tersebut.
Pennsylvania Attorney General
detikINET – “Meta Bayar Uang Damai Rp321 Triliun, Facebook dan Instagram Berubah”, 27 Agustus 2026. Referensi Indonesia mengenai besarnya settlement dan perubahan kebijakan platform.
Baca di detikINET






